Ratusan TKI Disekap di Arab Saudi, Makan Hanya Sehari Sekali

"Jangankan untuk mandi, untuk salat saja tidak ada, akhirnya dia melakukan protes. Maka dia akan disiksa. Ibu majikan akan memanggil tukang pukul dan memukulinya,”

Kamis, 06 Apr 2017 08:12 WIB

Ilustrasi (sumber: Antara)


KBR, Jakarta- Pendamping korban eks buruh migran korban penyekapan asal Lombok, NTB, Tutik menyebut kliennya kerap dipukuli oleh  agensinya. Tutik mendampingi dua korban eks buruh migran asal Lombok, Dian dan Lisnawati.

Kata dia,  di penampungan para buruh migran diperlakukan tidak manusiawi.
 
“Kalau menurut pengakuannya, dia hanya dapat makan sehari sekali. Itu juga dalam bentuk bubur. Fasilitas juga sangat terbatas. Pernah satu waktu, Lisnawati berdemo ke pihak agensi karena kurang air. Jangankan untuk mandi, untuk salat saja tidak ada, akhirnya dia melakukan protes. Maka dia akan disiksa. Ibu majikan akan memanggil tukang pukul dan memukulinya,” katanya.
 
Ia menambahkan, saat memukul salah satu buruh migran yang dianggap bersalah, seluruh buruh migran yang disekap dalam penampungan  dipaksa  menyaksikan rekannya yang dihukum/disiksa. Tujuannya agar menimbulkan efek jera agar mereka tidak membuat kesalahan.

Sementara itu Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dan Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM tengah mencari perusahaan penyalur jasa tenaga kerja yang memberangkatkan ke Arab Saudi. Menurut  Sekretaris Utama BNP2TKI Hermono, pihaknya bersama Imigrasi sudah melakukan pemeriksaan terhadap 10 orang yang  dipulangkan ke Indonesia.

Kata dia, dari hasil pemeriksaan itu didapati bahwa mereka diberangkatkan melalui jalur nonprosedural. Untuk itulah, pihaknya mencari perusahaan-perusahaan yang mengajukan visa dan paspor terhadap TKI tersebut.

"Kita sekarang di sini sedang mencari siapa yang memberangkatkan dari sini. Dari sisi BNP2TKI adalah melakukan penelitian sebetulnya siapa yang memberangkatkan ke sana. Jadi, BNP2TKI lebih fokus kepada aspek penelitian siapa yang memberangkatkan. Dari 10 orang yang sudah dipulangkan itu semuanya tidak ada dalam sistem informasi kita, artinya mereka itu diberangkat secara nonprosedural," ujar Sekretaris Utama BNP2TKI Hermono saat dihubungi KBR, Rabu (5/4/2017).

Hermono mengakui ada banyak TKI yang berangkatnya ke Arab Saudi meskipun ada moratorium. Kata dia, mereka yang berangkat biasanya menggunakan cara-cara nonprosedural sehingga memunculkan masalah baru seperti eksploitasi dan penyiksaan.

"Karena mereka diberangkat secara nonprosedural itu artinya mereka tidak disiapkan untuk bekerja. Dia tidak tahu harus bekerja apa, bahasa tidak mengerti, timbul masalah ketidaktahuan untuk bekerja. Ini semua karena ekses pemberangkatan nonprosedural. Yang jelas ini pemberangkatan nonprosedural, sangat mungkin yang memberangkatkan itu individual, calo-calo. Kita tahu ada kebocoran, kita tahu. Kita sedang lakukan upaya pencegahan," ujarnya.

Editor: Rony Sitanggang
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.