Pelarangan Film India Peraih Penghargaan Internasional Picu Kemarahan

Film ini bercerita tentang kehidupan empat perempuan yaitu seorang mahasiswi yang memakai burka, ahli kecantikan muda, ibu dari tiga anak dan janda berusia 55 tahun.

Senin, 03 Apr 2017 09:57 WIB

Artis dan aktor di film Lipstick under my Burkha.

Artis dan aktor di film Lipstick under my Burkha.


Keputusan India melarang film Hindi berjudul Lipstick under my Burkha atau Lipstik di Balik Burka Saya memicu kemarahan di seluruh negeri. Film ini sendiri sudah meraih berbagai penghargaan di festival film internasional.

Film ini bercerita tentang kehidupan empat perempuan yaitu seorang mahasiswi yang memakai burka, ahli kecantikan muda, ibu dari tiga anak dan janda berusia 55 tahun.

Lembaga Sertifikasi Film India mengatakan mereka melarang film ini karena sifatnya yang eksplisit dan menggunakan bahasa yang dianggap tabu.

Koresponden Asia Calling KBR, Jasvinder Sehgal, mencari tahu lebih jauh soal kontroversi ini.

Iram Tasleem, jurnalis berusia 26 tahun asal Jaipur sedang menonton cuplikan sebuah film India yang kontroversial. Judulnya  Lipstick under my Burkha atau Lipstik di Balik Burka Saya.

Dia ingin mengulas film itu untuk surat kabarnya tapi dia kesulitan. Film itu tidak boleh tayang di India. Larangan itu, katanya, adalah tamparan bagi kebebasan berekspresi.

“Ini adalah film tentang perempuan dan di India film semacam ini hampir tidak pernah dibuat,” kata Iram. 

“Satu sisi kami bicara tentang hak-hak anak perempuan dan pendidikan mereka. Tapi ketika seorang gadis atau perempuan ingin mengekspresikan diri, mereka dihalangi. Lalu apa gunanya pasal 19 Konstitusi India yang menjamin kebebasan berbicara dan berekspresi?”

Tapi kritikus film lokal dan pencinta seni, Shabana Dagar, 45 tahun, punya pandangan yang sangat berbeda. Menurutnya kebebasan berekspresi tidak berarti berhak untuk menjadi vulgar.

Dia mengatakan kebebasan berekspresi tidak berarti vulgar dan telanjang. Ide inovatif bisa diekpresikan dengan cara lain. “Tindakan pencegahan yang memadai harus dilakukan saat berlatih kebebasan berbicara, berpakaian dan berpikir. Ada batas untuk semua hal dan jika ini dilanggar maka hasilnya akan buruk,” jelas Shabana.

Film itu dibintangi artis India terkemuka, Ratna Pathak Shah. Dia berperan sebagai seorang janda berusia 55 tahun yang menemukan kembali seksualitasnya.

Dia mengatakan cara pandang perempuan India berubah secara dramatis dalam beberapa dekade. Perubahan ini yang coba digambarkan film itu.

Menurut Ratna film ini menggambarkan gelombang baru perubahan yang terjadi di India.

“Masyarakat berubah termasuk perempuan. Film ini mencoba menangkap dan menunjukkan perubahan itu. Meski peran utama dimainkan perempuan tapi mereka bisa menunjukkan apa yang sedang terjadi di seluruh dunia,” tutur Ratna.

Pemerintah India mengklaim alasan pelarangan film itu karena bahasanya yang eksplisit. Termasuk adegan telepon seks yang mereka sebut memenuhi syarat dikategorikan sebagai pornografi.

Lembaga Sertifikasi Film juga menyebut film itu bisa dianggap menyerang komunitas Muslim karena tokoh dalam film memakai burka. 

Pehlaj Nihlani, seorang pekerja film kondang, adalah ketua Lembaga Sertifikasi Film India. Dia mengatakan dewan bersikap sangat hati-hati dalam membuat keputusan ini.

“Tidak benar kalau film ini dilarang karena sebenarnya ada proses untuk mendapatkan sertifikat film. Kepanikan diciptakan sehingga produsen mendapatkan publisitas. Saya tidak mau berkomentar apa-apa lagi,” tukas Pehlaj.

Tapi pencipta film Lipstik di Balik Burka Saya menentang pelarangan itu. Menurut mereka, film ini membawa pesan feminis yang kuat.

“Jika India benar-benar negara demokrasi dan konstitusi menjanjikan kebebasan berekspresi serta kesetaraan gender maka kita harus melakukannya,” jelas sutradara film, Alankrita Shrivastava.

“Saya merasa keputusan Lembaga Sensor ini seperti hantaman bagi hak-hak perempuan. Semua orang merasa marah karena bagaimana mungkin badan sensor mencoba meredam dan melumpuhkan suara perempuan.”

Alankrita mendapat banyak dukungan.

Jurnalis Iram Tasleem mengatakan keputusan dewan untuk melarang film harus dilawan secara hukum. “Tugas Lembaga Sertifikasi Film adalah mengesahkan film. Lembaga itu tidak bisa menyensor film. Ini menjadi tanda tanya besar terkait keterbukaan kerja lembaga itu.”

Dan Alankrita mengatakan pertarungan hukum baru saja dimulai.

“Ada Pengadilan Banding Sertifikasi Film di New Delhi. Jadi kami sedang mempersiapkan kasus ini untuk mendapatkan keputusan pembatalan. Dan juga ada persidangan setelah itu,” jelas Alankrita.

Lipstick Under My Burkha atau Lipstik di Balik Burka Saya sejauh ini telah memenangkan beberapa penghargaan di festival film Tokyo, Amsterdam dan Skotlandia. Termasuk Oxfam Award untuk Film Terbaik tentang Kesetaraan Gender.

Banyak warga di India berharap tidak harus menunggu lebih lama lagi untuk bisa menonton film ini di bioskop-bioskop negara itu.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Kepolisian Siapkan 4 Ribu Personel Amankan Kunjungan Obama di Jakarta dan Bogor

  • Peningkatan Kendaraan Arus Balik Lebaran Terjadi di Tol Cileunyi
  • Penghapusan Sistem Kuota, Importir: Lihat Dulu Apa Komoditasnya
  • Militer Filipina Temukan 17 Jenazah yang Dimutilasi di Marawi

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?