Pekan Depan Teliti Kars Kendeng, Tim Geologi ESDM Siap Diawasi dari Awal Hingga Akhir

Agar lebih transparan dalam penelitian, Rudy menyatakan siap bekerjasama dengan LSM atau lembaga lain. Di samping itu, tim juga membuka diri untuk diawasi dan dikawal masyarakat.

Kamis, 13 Apr 2017 18:39 WIB

Kawasan perbukitan karst di Pegunungan Kendeng Utara, Rembang, Jawa Tengah. (Foto: Agung W)


KBR, Jakarta - Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana mulai meneliti wilayah pegunungan karst Kendeng, Rembang, Jawa Tengah pada pekan depan.

Penelitian itu untuk mencari kepastian adanya sungai bawah tanah di bawah Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih, Kendeng.

Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi, Kementerian ESDM Rudy Suhendar mengatakan tim terdiri dari 12 orang peneliti. Tim akan berangkat menuju kawasan karst Kendeng, pada Selasa pekan depan.

Di lokasi itu, kata Rudy Suhendar, tim akan meneliti ulang wilayah kars Pegunungan Kendeng termasuk menguji kembali temuan dari Tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). Selain itu, tim juga akan meneliti ada tidaknya gua bawah tanah yang memiliki sungai atau aliran air.

Di Kendeng nanti, kata Rudy, tim akan bekerja tiga minggu dan selanjutnya meneliti sampel di laboratorium.

"Tim KLHS sudah membahas data-data sekunder. Sedangkan tim ini nanti memperluas wilayah kajian serta juga menguji data-data sekunder yang digunakan tim KLHS," kata Rudy Suhendar kepada KBR, Kamis (13/4/2017).

Tim ESDM yang akan dikirim ke Rembang itu, kata Rudy Suhendar, diantaranya terdapat ahli geologi lingkungan Tantan Hidayat, ahli hidrogeologi Taat Setiawan, ahli hidrokimia Budi Joko Purnomo serta ahli geofisika Wiyono.

"Yang belum ada tim ahli gua, untuk membantu menelusuri gua bawah tanah," kata Rudy Suhendar.

Agar lebih transparan dalam penelitian, Rudy menyatakan siap bekerjasama dengan LSM atau lembaga lain. Di samping itu, tim juga membuka diri untuk diawasi dan dikawal masyarakat.

"Hasilnya akan kami buka ke masyarakat dan prosesnya juga terbuka. Kalau mau ikut silakan saja. Kalau ada yang mau mengikuti tim kami dari awal sampai akhir, silakan saja. Asal tidak mempengaruhi dan tidak menggangu kita," kata Rudy Suhendar.

Baca juga:


Minta dilibatkan

Masyarakat petani yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) meminta Badan Geologi Kementerian ESDM melibatkan warga dalam penelitian lanjutan untuk menentukan status CAT Watuputih.

Koordinator JMPPK, Gunritno mengatakan masyarakat peduli Kendeng akan mengawal pelaksanaan rekomendasi KLHS, termasuk rekomendasi penelitian lanjutan untuk mencari keberadaan sungai bawah tanah di pegunungan karst Kendeng.

"Kami ingin dilibatkan secara terbuka, tidak hanya diminta data-data. Bila perlu kami minta agar dimasukkan ke dalam tim. Ini bukan hanya untuk kami saja, tapi juga semua pihak, baik pihak pabrik semen maupun warga yang pro," kata Gunretno di kantor YLBHI, Jakarta, Kamis (13/4/2017).

"Semua kalau bisa masuk tim untuk mengolah data dan fakta lapangan, sampai mengeluarkan putusan," kata Gunretno.

Gunretno menjelaskan kawasan Watuputih sudah memenuhi kriteria dijadikan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) karena di sana terdapat 76 gua, 136 mata air dan sejumlah lubang resapan alami atau ponor.

"Seharusnya ESDM memutuskan kawasan Watuputih itu menjadi kawasan karst," ujarnya.

Masyarakat peduli Kendeng menyambut baik kesimpulan dan rekomendasi KLHS tahap satu. Hal itu diekspresikan oleh JMPPK dan sembilan Kartini Kendeng dengan menggelar brokohan atau syukuran dengan menyajikan bubur merah dan bubur putih di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta, Kamis (13/4/2017).

Sembilan Kartini Kendeng juga kembali menabuh lesung. Mereka mewakili ribuan petani di Pegunungan Kendeng mulai dari Grobogan, Pati, Blora, Rembang, Bojonegoro, Tuban dan Lamongan.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Pansus KPK Minta Bertemu untuk Rapat Konsultasi, Ini Tanggapan Jokowi

  • Kasus Palu Arit, Aktivis Tumpang Pitu Didakwa Langgar UU
  • Kloop: Masih Terus Kebobolan, Liverpool Akan Susah
  • Inggris Tangkap Tersangka Ketiga Pengebom di London