KLHS Kendeng, JMPPK Tuding Penambangan Masih Berjalan

“Kalau banyaknya ada 10an lebih, kepemilikan tambang punya perusahaan bukan milik warga sekitar, ada yang dari Surabaya, Jawa Timur, Rembang dan Blora,”

Jumat, 14 Apr 2017 16:36 WIB

Ilustrasi: Aksi petani Kendeng tolak semen di depan istana Kepresidenan. (Foto: KBR/Ade I.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Joko Prianto menyatakan  kegiatan tambang di kawasan Cekungan Air Tanah (CAT) Rembang Jawa Tengah masih terus berlangsung. Ia juga mengatakan tambang di lokasi tersebut masih ada belasan yang aktif beroperasi.

“Kegiatan pertambangan itu masih ada, karena kegiatan tersebut masih terlihat warga. Karena setiap pukul 12 masih terdengar suara ledakan dari arah tambang tersebut,” ujar Joko kepada KBR, Jumat (14/04).

Ia juga menjelaskan bahwa belasan tambang tersebut bukanlah milik masyarakat Rembang, melainkan beberapa perusahaan yang berada di sekitar Jawa Timur.

“Kalau banyaknya ada 10an lebih, kepemilikan tambang punya perusahaan bukan milik warga sekitar, ada yang dari Surabaya, Jawa Timur, Rembang dan Blora,” ujar Joko.

Joko mendesak pemerintah untuk menutup tambang-tambang tersebut sesuai dengan rekomendasi tim kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) Rembang. Dia tidak melihat adanya upaya tegas dari pemerintah dalam menangani aktifitas tambang tersebut.

Baca: Dinas ESDM Tak Akui Rekomendasi


Sementara itu Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng, Teguh Dwi Prayono mengklaim saat ini tak ada penambangan ilegal di atas cekungan air tanah (CAT) Watuputih, Pegunungan Kendeng, Rembang. Teguh mengatakan, setidaknya sudah ada sepuluh lokasi penambangan ilegal yang ditutup, serta alatnya disita.

Kata Teguh, biasanya penambang ilegal itu adalah warga Rembang, yang alatnya didanai pemodal.

"Banyak, banyak yang kita tutup, alatnya kita sita. Sekitar sepuluh. Ya rakyat, tapi kerja sama dengan pemodal. Mereka sudah berhenti, tidak tahun ini, tahun-tahun yang kemarin sudah kita lakukan," kata Teguh kepada KBR, Jumat (14/04/17). 

Teguh melanjutkan, "sampai sekarang sudah tidak ada. Tapi bahwa ditemukan ditemukan lagi, tidak bisa dipastikan. Karena ilegal itu kucing-kucingan. Kemarin sudah ditemukan, diingatkan, dua hari kemarin."

Teguh mengatakan, biasanya penambang ilegal itu berskala kecil, dan dikerjakan sendiri oleh masyarakat lokal Rembang. Menurut Teguh, saat ini sudah tak ada lagi penambangan ilegal di CAT Watuputih, karena penambangnya sudah ditangkap polisi dan alatnya disita.

Teguh berujar, Dinas ESDM Jawa Tengah juga rutin berpatroli memburu penambang ilegal di Pegunungan Kendeng. Kata dia, patroli rutin itu dijalankan kantor Dinas ESDM cabang Blora. Selain itu, Dinas ESDM juga menerima laporan dari masyarakat, yang biasanya melalui pesan singkat atau media sosial.  

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi