Bappenas: Ada Peluang Desain NCICD Berubah

"Bisa saja tanggul yang kita perkirakan berada di bibir pantai, nanti bergeser sedikit ke tengah. Tahu kan, yang di masterplan itu baru ide," kata Deputi Kepala Bappenas, Wismana Adi Suryabrata.

Jumat, 28 Apr 2017 21:53 WIB

Ilustrasi. Tanggul laut di utara Jakarta. (Foto: setkab.go.id)


KBR, Jakarta - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) membuka kemungkinan adanya perubahan pada desain proyek pengembangan kawasan pesisir terpadu ibukota (National Capital Integrated Coastal Development/NCICD) beserta reklamasi teluk Jakarta.

Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas Wismana Adi Suryabrata mengatakan saat ini lembaganya tengah mengkaji kembali dokumen NCICD dengan mempertimbangkan berbagai hal baru yang ada di Teluk Jakarta.

Wismana menambahkan uji kelayakan atau feasibility study bisa saja mengubah desain NCICD dan lansekap pulau reklamasi.

"Bisa saja tanggul yang kita perkirakan berada di bibir pantai, nanti bergeser sedikit ke tengah. Tahu kan, yang di masterplan itu baru ide," kata Wismana di Gedung Joeang 45 Menteng, Jumat (28/4/2017).

Baca juga:


Wismana mengatakan, saat ini Bappenas masih memerlukan waktu untuk mengkaji NCICD bersama tim di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Dia memperkirakan pengkajian itu akan rampung pada Oktober 2017.

Saat ini, kata Wismana, pemerintah masih fokus membangun tanggul sepanjang 20,1 kilometer di titik-titik kritis di aliran sungai dan pantai utara Jakarta.

Selain itu, Bappenas juga terus memantau penurunan muka air tanah, yang biasanya mencapai 18 centimeter per tahun. Wismana mengatakan apabila pembangunan tanggul itu sudah memberikan efek positif, berarti akan ada penyesuaian dalam proyek NCICD.

NCICD merupakan program khusus pemerintah pusat untuk mencegah tenggelamnya Jakarta dari air laut. Pemerintah beralasan setiap tahun Jakarta mengalami banjir luapan air laut atau rob karena terjadinya penurunan muka tanah yang lebih cepat dari perkirakan.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau