Bank Indonesia: Tuduhan Donald Trump Dangkal

Trump menuding sejumlah negara, termasuk Indonesia, sebagai berbuat curang menyebabkan defisit perdagangan AS terlalu dalam.

Rabu, 05 Apr 2017 21:19 WIB

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menjadi tuan rumah perayaan Hari Kemerdekaan Yunani di Gedung Putih Washington, Jumat (24/3/2017). (Foto: ANTARA/Reuters)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara membantah tuduhan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Indonesia mencurangi perdagangan bilateral dengan Amerika Serikat.

Mirza mengatakan tuduhan Trump itu dangkal dan tak sesuai dengan fakta. Tiga kriteria yang digunakan Presiden Trump untuk menilai kecurangan perdagangan (unfair subsidies), kata Mirza, sama sekali tidak dilakukan Indonesia.

"Dari tiga kriteria itu, seharusnya Indonesia tidak masuk. Tetapi, tentu saja pemerintah Indonesia perlu untuk mencermati perkembangan di Amerika, karena dari executive order tersebut. Dalam tiga bulan itu akan keluar laporan Amerika mengenai negara yang dianggap melakukan unfair subsidies. Yang paling berkepentingan itu tentu teman-teman Kementerian Perdagangan yang harus melakukan pemantauan," kata Mirza di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Rabu (5/4/2017).

Mirza menjelaskan mengapa tudingan Trump terhadap Indonesia dangkal. Mirza mengatakan, Trump memiliki tiga indikator untuk mengukur kecurangan mitra dagangnya. Pertama, negara tersebut memiliki surplus pada neraca perdagangan dengan AS di atas USD 20 miliar. Padahal, surplus perdagangan Indonesia hanya USD 13 miliar.

Kedua, negara yang dianggap curang itu memiliki neraca transaksi berjalan yang surplus. Adapun Indonesia masih mengalami defisit transaksi berjalan sebesar 1,8 sampai 2 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Ketiga, negara tersebut terbukti mengintervensi pasar agar nilai tukar mata uangnya melemah secara terus menerus dalam satu tahun yang besarnya sampai 2 persen dari PDB. Padahal, kata Mirza, pemerintah melalui BI justu berusaha agar rupiah selalu stabil dan cenderung menguat.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan penyelidikan terhadap defisit perdagangan AS, serta membuat kebijakan menolak importasi. Penyelidikan itu akan mengumpulkan data perdagangan Amerika Serikat yang mengalami defisit hingga USD 500 miliar atau Rp6.675 triliun.

Trump menuding sejumlah negara sebagai berbuat curang menyebabkan defisit perdagangan AS terlalu dalam. Diantara negara yang jadi sasaran tudingan Trump antara lain Tiongkok, Jepang, Jerman, Meksiko, Irlandia, Vietnam, Italia, Korea Selatan, Malaysia, India, Thailand, Prancis, Swiss, Taiwan, Kanada serta Indonesia.

Dalam catatan Trup, pada 2016 defisit perdagangan AS dengan Indonesia mencapai USD 8,84 miliar dolar AS atau Rp 118 triliun.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Ini Hasil Rapat Bamus DPR soal Perppu Ormas

  • Tim Arkeolog Sumba Berupaya Cetak Kerangka Situs 2800 Tahun
  • LN: Amerika Terapkan Sanksi Baru bagi Pendukung Korea Utara
  • OR: Di Tengah Ketakpastian Draxler Didekati Sejumlah Klub

Indonesia baru merayakan dirgahayu yang ke-72. Ada banyak harapan membuncah untuk generasi penerus yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.