Alasan Densus 88 Interogasi Politisi PKS Pasuruan

"Setelah dijemput mereka dibawa ke Bambu Apus milik Kementerian Sosial. Di situ diinterogasi sebab-sebab mereka dideportasi dari Turki,"

Senin, 10 Apr 2017 08:56 WIB

Ilustrasi: Aksi tolak Densus 88

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Detasemen Khusus 88 Anti Teror memeriksa anggota DPRD Pasuruan dari Partai PKS Muhammad Nadir Umar dan pekerja swasta Budi Mastur di RPSA Bambu Apus karena dideportasi oleh Turki.  Densus 88 menjemput Nadir dari Bandara Internasional Juanda Surabaya dan Mastur dari Bandara Husein Sastranegara Bandung pada Sabtu (08/04).

Juru bicara Polri, Rikwanto mengatakan, semua deportan dari Turki atau diduga teroris harus melalui pemeriksaan terlebih dahulu. Mereka berdua akan dikembalikan ke keluarga masing-masing setelah pemeriksaan selesai.

"Itu dijemput karena dideportasi dari Turki ke Malaysia, kemudian dari Malaysia ke Surabaya dan satu orang ke Bandung. Setelah dijemput mereka dibawa ke Bambu Apus milik Kementerian Sosial. Di situ diinterogasi sebab-sebab mereka dideportasi dari Turki," kata Rikwanto kepada KBR, Minggu (09/04/17).

Rikwanto mengatakan, kedua WNI itu masuk ke wilayah Suriah menggunakan cover relawan misi kemanusiaan. Mereka merupakan relawan dari Yayasan Qoiru Umah. Rencana dana yang disalurkan oleh yayasan ini sebesar 20 ribu USD untuk pengungsi di Turki dan Lebanon.

"Ternyata di sana mereka memang ke Turki lewat Malaysia, covernya misi kemanusiaan," kata Dia.

Kedua WNI ini berangkat melalui rute Kuala Lumpur-Istanbul pada 31 Maret 2017. Rikwanto mengatakan, mereka telah mengunjungi pengungsian di Istanbul, Gazianteb dan Rayhanli untuk penyaluran bantuan. Namun mereka terkendala masalah visa saat ke Lebanon sehingga dikembalikan ke Istanbul.

"Setelah kembali ke Istanbul kemudian diketahui mereka telah memasuki daerah perbatasan dan kemudian diamankan oleh Imigrasi. Pada 07 April mereka dideportasi ke Indonesia" kata Rikwanto.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Selama ini kita sering mendengar berita mengenai orang yang meninggal akibat penyakit diabetes, sehingga menjadikan diabetes sebagai salah satu penyakit yang ditakuti.