[Advertorial] Minyak Kayu Putih, Primadona yang Terlupakan

Salah satu faktor yang menghambat pertumbuhan industri minyak kayu putih adalah rendahnya rendeman minyak yang dihasilkan dari tanaman minyak kayu putih

Kamis, 27 Apr 2017 13:56 WIB

Dr. Anto Rimbawanto (peneliti kayu putih) memaparkan keunggulan minyak kayu putih di Indonesia.

Tumbuhan yang menghasilkan minyak kayu putih adalah Melaleuca Cajuputi subsp. Cajuputi. Di Indonesia, minyak kayu putih sangat banyak digunakan, bahkan Dr. Anto Rimbawanto, seorang peneliti kayu putih dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman menegaskan minyak kayu putih sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia. Beliau menjelaskan, bahwa tumbuhan penghasil minyak kayu putih tersebut sudah sejak lama tumbuh secara alami di Kepulauan Maluku, yang juga sudah dimanfaatkan oleh masyarakat. Bahkan,  Perum Perhutani telah mengembangkan tanaman ini di Pulau Jawa pada tahun 1926.

Walaupun dengan kondisi tanaman yang dapat dikembangkan secara baik, ternyata kurang dilirik oleh masyarakat Indonesia untuk dikembangkan budidayanya. Sebagian besar minyak kayu putih banyak dihasilkan oleh Perum Perhutani atau KPH Yogyakarta di Pulau Jawa. Total produksi nasional hanya mampu mencapai 400 ton per tahun, hal ini sangat berbanding terbalik dengan kebutuhan farmasi nasional pada tahun 2016 yang diperkirakan sebesar 3500 ton per tahun. Untuk menutupi kekurangan pasokan minyak kayu putih, maka dilakukan bahan subtitusi berupa minyak ekaliptus dari Cina.

Anto sebagai peneliti sangat menyayangkan kondisi seperti ini, dimana Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar untuk memasok tanaman minyak kayu putih  yang dapat tumbuh dengan baik di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan farmasi nasional, malah harus menghamburkan devisa negara hingga lebih dari USD 54 juta/tahun. Beliau menjelaskan, minyak ekaliptus memang mengandung 1,8 cinole, seperti yang dikandung oleh minyak kayu putih, tetapi tidak dapat menyamai aroma khas minyak kayu putih, bahkan ia menambahkan, minyak kayu putih murni, baik dan aman dikonsumsi untuk kesehatan, tetapi tidak dengan minyak kayu putih kemasan yang banyak beredar saat ini.

Petak 95 RPH Monggoro, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman

Salah satu faktor yang menghambat pertumbuhan industri minyak kayu putih adalah rendahnya rendeman minyak yang dihasilkan  dari tanaman minyak kayu putih, rata-rata 1 ton daun hanya menghasilkan 80 kg minyak. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, program pemuliaan tanaman sudah dilakukan. Program ini bertujuan untuk mendapatkan individu pohon dengan sifat genetik unggul yang menghasilkan rendeman minyak yang tinggi yang telah dimulai sejak 1996. Benih unggul pun saat ini sudah tersedia yang dapat menghasilkan rendeman minyak >2% dan kadar 1,8 cineol >60%. Anto Rimbawanto berharap, ke depannya tidak lagi dilakukan impor tanaman ekaliptus dari Cina yang menghamburkan devisa negara. Lebih baik dana tersebut dimanfaatkan untuk perluasan pengembangan benih unggul dan mendorong produksi minyak kayu putih nasional untuk kemandirian pasokan kebutuhan farmasi nasional.


Editor: Paul M Nuh

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Saracen, Analisis PPATK sebut Nama Besar

  • Bentuk Densus Tipikor, Mabes Minta Anggaran Hampir 1 T
  • Bareskrim Sita Jutaan Pil PCC di Surabaya
  • Konflik Myanmar, Tim Pencari Fakta PBB Minta Tambahan Waktu