Awasi Pencurian Ikan, RI Gunakan Nanosatelit dari Silicon Valley

Satelit dari perusahaan Spire Global yang akan dimanfaatkan oleh Indonesia digambarkan berukuran setinggi botol minuman dengan bobot sekitar 5 kilogram.

Jumat, 29 Apr 2016 17:12 WIB

Situs Spire Global. (Foto: www.spire.com)

KBR - Pemerintah Indonesia memiliki 'senjata' baru dalam pengawasan aktivitas pencurian ikan di Indonesia.

Pemerintah kini menggandeng industri teknologi Spire Global dalam kerjasama untuk memantau laut di kawasan Indonesia seluas 5,8 juta kilometer persegi.

Perusahaan teknologi bermarkas di Silicon Valley, San Francisco, California Amerika Serikat itu akan dilibatkan dalam penggunaan satelit berukuran kecil (nano satelit) guna memantau aktivitas pencurian ikan di perairan Indonesia.

Kerjasama itu diumumkan pada 27 April lalu, ditanda tangani oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Spire Global merupakan perusahaan pengumpul dan pengolah data satelit yang mengkhususkan pada pelacakan data maritim. Perusahaan ini merupakan pengembangan dari perusahaan startup Nanosatisfi Inc, yang didirikan pada 2012. Perusahaan ini memiliki "Spire Sense", layanan pelacakan aktivitas kapal secara global dan data cuaca frekuensi tinggi melalui satelit.

Satelit dari perusahaan Spire Global yang akan dimanfaatkan oleh Indonesia digambarkan berukuran setinggi botol minuman dengan bobot sekitar 5 kilogram. Satelit kecil ini bekerja dengan 'mendengarkan' dan menganalisa gelombang radio yang dikumpulkan dari daerah tertentu. Alat ini cocok untuk memantau perairan Indonesia yang luas dengan 17 ribu pulau, terutama di daerah-daerah perbatasan minim pengawasan.

Sebanyak 20-an satelit kecil milik Spire Global yang beredar di orbit rendah bumi akan mengumpulkan identitas data kapal dan lokasi dari transponder Automatic Identification System (AIS) yang memang harus dimiliki setiap kapal di dunia. Peralatan ini juga bisa mendeteksi jika ada kapal yang mematikan transponder AIS. Data lalu diolah di 20-an stasiun Spire di darat.

Spire Global juga akan memetakan pergerakan kapal dan menyampaikan informasinya kepada pemerintah Indonesia secara cepat sehingga bisa direspon segera ketika ada aktivitas mencurigakan atau ilegal di perairan Indonesia.

Rangkaian satelit yang tersebar di berbagai tempat mengelilingi bumi itu terintegrasi menjadi satu, sehingga bisa secara konstan memperbarui data, meskipun berada di daerah terpencil sekalipun.

"Ilegal fishing punya dampak negatif bagi ekonomi dan punya dampak kemanusiaan secara global. Kami bangga bisa bekerjasama dengan pemerintah Indonesia untuk ikut mengamankan, memantau dan membangun ekosistem maritim di negara itu," kata CEO Spire Global Peter Platzer.

Sejauh ini pemerintah Indonesia sudah menenggelamkan 174 kapal pencuri ikan yang beroperasi di perairan Indonesia. Sementara 20-an kapal lain akan segera ditenggelamkan setelah mendapat keputusan pengadilan.

Menurut data WWF Internasional, Indonesia kehilangan lebih dari Rp100 triliun pada 2014 karena maraknya kasus pencurian ikan. Jumlah itu mencapai 25 persen dari potensi total perikanan Indonesia. (The Diplomat/Quartz/GIV)

Editor:  Rony Sitanggang

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.