Pilkada Serentak, Pengungsi Syiah Sampang Siap Pulang Kampung Gunakan Hak Pilih

"Kami akan memilih dan tidak ada kami itu Golput karena bagi kami sebagai warga Sampang harus menentukan. Harus memilih pemimpin kami,"

Kamis, 08 Mar 2018 13:23 WIB

Aktifitas pengungsi Syiah Sampang di Rumah Susun Jemundo, Sidoarjo, Kamis (08/03). (Foto: KBR/Budi P.)

KBR, Surabaya- Warga Syiah Sampang yang tinggal di Rumah Susun Jemundo, Sidoarjo mengaku senang dengan keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur yang mendirikan Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Sampang. Iklil warga desa Bluuran mengatakan, selain menyalurkan aspirasinya di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018, warga Syiah  juga ingin menyambangi kampung halaman.

"Lebih bagus kami ke Sampang karena kami adalah warga Sampang. Karena kami warga Sampang,  dan seharusnya di Sampang," kata Iklil warga desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang, Kabupaten Sampang ketika diwawancarai KBR.ID di Rusun Jemundo, Kamis (8/3/2018).

Menurut dia, beberapa waktu lalu, KPU Sampang memang sudah melakukan pencocokan dan penelitian di Rusun Jemundo, untuk mendata pemilih. Dalam Pilkada 2018 mendatang, warga Sampang akan mencoblos di Pemilihan Bupati dan Pemilihan Gubernur Jawa Timur sekaligus.

"Kalau nggak salah nanti TPS-nya katanya di desa Drengik," tambahnya.

Dia mengatakan, warga Syiah tidak akan golput dalam Pilkada serentak kali ini. Pasalnya, mereka merasa ikut bertanggungjawab untuk menentukan pemimpinnya.

"Kami akan memilih dan tidak ada kami itu Golput karena bagi kami sebagai warga Sampang harus menentukan. Harus memilih pemimpin kami," tambahnya.

Dia berharap, siapapun Gubernur dan Bupati yang terpilih,  akan bisa memperjuangkan warga Syiah di Jemundo, agar bisa pulang ke Sampang.

"Harapan kami Gubernur yang terpilih bisa memulangkan kami ke Sampang lagi. Dan kami bisa hidup berdampingan di kampung halaman," tambahnya.

Iklil mengaku, hidup di pengungsian cukup berat. Pasalnya, tidak ada penghasilan yang tetap, setiap harinya. Padahal, biaya hidup di Rusun cukup besar.

"Kalau di sana kan lauk atau nasi tidak harus beli, kami punya singkong. Masak pakai kayu bakar selesai. Kalau di sini elpiji harus beli," tambahnya.

Dari data yang dihimpun, ada 80 keluarga pengungsi Syiah yang tinggal di Jemundo. Selama ini, mereka mendapat jatah hidup sebesar Rp 709 ribu   setiap satu bulan. Mereka terusir dari kampung halamannya sejak 2013 lalu. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob

  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

pernah melihat atau bahkan mengalami sendiri perlakuan diskriminatif / ujaran kebencian di ruang pendidikan, tempat kerja, lembaga pemerintahan, dan ruang publik lainnya tapi tidak tahu lapor kemana?