[SAGA] Zena Nabila, Gadis Down Syndrome Jadi Model di Fashion Week 2018

“Saya waktu dikasih tahu anak saya down syndrome, bingung. Pas pulang, anak ini kok pendiam baget. Namanya anak pertama kan enggak ngerti ya.”

Kamis, 29 Mar 2018 09:49 WIB

Zena Nabila hadir di peringatan Hari Down Syndrome Sedunia di Bentara Budaya Jakarta. Foto: KBR

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Peragaan busana di ajang Fashion Week 2018 Plaza Indonesia, memberi suguhan berbeda. Tak hanya perempuan-perempuan semampai yang berlenggak-lenggok di atas catwalk, tapi tiga model ‘spesial’ seakan merebut panggung dan mata pengunjung.

Mengenakan pakaian batik modern, mereka jalan dan berpose. Tepuk tangan tak henti mengiringi kehadiran mereka. Seorang model ‘spesial’ itu namanya Zena Nabila. Ia mengidap down syndrome.

“Waktu itu pakai baju biru sama sepatu boot. Rasanya senang soalnya ditepukin tangan. Kakak Zena jago,” ucapnya.

Zena, usianya 27 tahun. Bungsu dari tiga bersaudara ini, bercerita tak kaget ditatap ratusan pasang mata. Toh, ia memang kerap tampil di panggung; bermain alat musik.

Hadirnya tiga model dengan down syndrome ini, tak lepas dari peringatan Hari Down Syndrome Sedunia yang jatuh pada 21 Maret lalu. Adalah Alleira Batik –merek busana yang digunakan Zena dan teman-temannya.

Creative Director Alleira Batik, Anita Asmaya Sanin, berkata rencana menampilkan mereka sudah jauh-jauh hari dirancang.

“Kami sangat intens kerjasama dengan anak-anak ini karena mereka perlu perhatian dan menambah percaya diri,” ujar Anita.

Dia juga mengatakan, gelaran di Plaza Indonesia itu bukan yang pertama. Sudah lama, Alleira mengajak anak-anak berkebutuhan khusus menampilkan busana mereka.

Dan untuk pertunjukan Kamis malam itu, tak ada kendala apapun. Tak sulit pula mengajarkan ketiga model tersebut.

“Enggak masalah. Paling diajarkan pose dimana, jalan ke depan, kemudian kasih senyum ke penonton. Gayanya juga. Mereka bisa menerima,” sambungnya.

Down Syndrome merupakan kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang disebabkan dari abnormalitas perkembangan kromosom. Jika pada orang normal terdapat dua kromosom ke-21, penderita Down Syndrome memiliki tiga kromosom 21. Pengidap Down Syndrome pun mudah dikenali dari bentuk wajahnya yang khas.

Anak dengan Down Syndrome pada dasarnya memiliki potensi yang sama dengan anak pada umumnya. Selain memberikan pelatihan untuk menstimulus perkembangan otak maupun fisik, anak Down Syndrome memerlukan perhatian dari lingkungan sosialnya. Berteman dan berinteraksi dengan mereka dapat meningkatkan kepercayaan diri sehingga akan mendorong mereka untuk mandiri.

Tapi sayangnya, para orangtua yang anaknya mengalami Down Syndrome, kerap menutup diri. Bahkan, kata Ketua Umum Potads (Persatuan Orangtua dan Anak dengan Down Syndrome), Sri Handayani, ada orangtua yang menolak keberadaan sang anak.

“Tentunya yang paling penting, orangtua yang harus didekati dulu. Dikasih pemahaman, tanpa itu anaknya enggak akan muncul,” terang Yani.

Itu mengapa, kata Yani, tak ada data pasti berapa jumlah anak dengan Down Syndrome di Indonesia. Sementara dalam catatannya, di Jakarta kira-kira ada 900an. Dia juga mengatakan, di Potads, anak-anak dengan Down Syndrome dilatih kemampuan fisik maupun sosialnya.

“Di Potads ada kegiatan memasak, art-craft dan musik," tambahnya.

Potads berdiri sejak 2003 dan merupakan yayasan yang membantu memberikan wadah informasi dan kegiatan bagi para orangtua yang memiliki anak dengan Down Syndrome. Tujuannya agar orangtua mengetahui dan memahami bagaimana cara mendidik dan membesarkan anak tersebut.

Saat ini, anggota Potads tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Semisal di Jabodetabek, Medan, Padang, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Lampung, Kalimantan Timur dan Denpasar. Jumlah anggotanya sekitar 1.300 orang.


(Em Syarfi, ibu Aditya Fidri hadir di perayaan Hari Down Syndrome Sedunia di Bentara Budaya Jakarta. Foto: KBR)


Imansyah Aditya Fidri tak bisa lepas dari stick drum. Kemanapun dia pergi, selalu diboyong. Seperti itu hari, di perayaan Hari Down Syndrome Sedunia, remaja 14 tahun ini memutar-mutarkan sepasang stick drumnya sembari menyaksikan teman-temannya tampil di panggung.

Em Syarfi, ibu Adit, bercerita anak bungsunya itu sudah dikenalkan dengan beragam alat musik sejak kecil. Sebab katanya, anak Down Syndrome lebih cepat berekspresi dengan bunyi-bunyian.

“Saya memberi seluruh pilihan alat musik, karena saya mempelajari anak down syndrome ini anak peniru bukan eksak,” pungkas Em Syarfi.

Tapi drum jadi yang paling pas. Adit pun mulai berlatih di usianya tiga tahun.

“Gitar tidak lancar, tangannya lamban. Organ juga tidak dapat feelnya. Jadi dia enggak bisa iringi lagu. Di drum, dia bisa ikuti aliran musik dan hapal ratusan lagu,” sambungnya.

Di situs berbagi video, YouTube, anda bisa menyakisan seperti apa aksi Adit menabuh drum. Lagu-lagu yang dibawakan juga tak sembarangan. Sebut saja Band Queen, Noah, hingga Armada. Malah, Adit pernah diundang dan tampil bersama Gilang Ramadhan dan vokalis Gigi, Arman Maulana.

Em Syarfi juga bercerita tak pernah menyangka memiliki anak dengan Down Syndrome. Tapi ia beruntung, sebab suami dan keluarga besarnya tak ada yang menyalahkan.

“Keluarga mendukung. Malah bilang kami ada bersamamu, jangan khawatir. Nah itu juga sangat mendukung tumbuh kembang anak difabel,” ucapnya.

Di rumahnya di Payakumbuh, Padang, Adit juga diajarkan mengerjakan pekerjaan rumah dan memasak. Itu dilakukan agar si anak mandiri dan tak disepelekan.  


(Axl Pirre Sitepu bersama sang ibu, Ayu Wahyuni di peringatan Hari Down Syndrome Sedunia di Bentara Budaya Jakarta. Foto: KBR)


Selain Adit, ada Axl Pirre Sitepu. Usianya 15 tahun. Dia senang melukis dan membuat kerajinan tangan. Hasil karyanya dipamerkan ketika perayaan Hari Down Syndrome Sedunia yang digelar di Bentara Budaya Jakarta. Kata sang ibu, Ayu Wahyuni, kesukaan Axl pada seni sudah dimulai sejak kecil.

“Dia kebetulan kursus seni, mewarnai. Kemarin dia gambar bikin burung dengan detailnya. Kemudian bikin prakarya, gantungan kunci dari plasik. Itu, melatih motoriknya,” tutur Yuni.

Tak hanya melukis, kini Axl juga dikenalkan pada alat musik.

Saat Axl lahir, Yuni tak mengetahui apa itu Down Syndrome. Pun ketika dokter memberitahu kalau anaknya mengidap Down Syndrome, ia hanya mengangguk-angguk. Yang ia kenali dari bayi Axl, adalah pendiam.

“Saya waktu dikasih tahu anak saya down syndrome, bingung. Pas pulang, anak ini kok pendiam baget. Namanya anak pertama kan enggak ngerti ya,” kenangnya.

Tapi begitu ia berselancar di internet tentang apa itu Down Syndrome, air matanya tumpah. Menangis sejadi-jadinya.

“Saya nagis. Anak saya bisa jadi apa? Tapi saya dan suami jadi kuat. Kami berdua saling menguatkan dan tidak menyalahkan. Keluarga besar juga enggak ada yang nyalahin,” sambung Yuni.

Ayu Wahyuni dan Em Syarfi, tak pernah menyesali keberadaan sang anak. Bagi keduanya, Adit dan Axl adalah kekuatan dan kebanggaan mereka. EmSyafri pun berharap para orangtua yang memiliki anak dengan Down Syndrome tak menutup diri.

“Ya tidak gampang jadi ibu difabel, tapi kalau berlapang hati saya rasa semuanya akan gampang,” tukas Em Syarfi.




Editor: Quinawaty
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang