Surat Rakyat Kendeng untuk Presiden Jokowi (Bagian 3)

"Pak Presiden jangan pernah lupa ya pak, rakyat memang kecil-kecil, tapi apa-apa yang kami kerjakan menentukan hidup matinya bangsa dan negara kita ini."

Rabu, 15 Mar 2017 11:04 WIB


KBR, Jakarta- Petani pegunungan  Kendeng, Jawa Tengah melakukan aksi menyemen kaki di depan istana presiden. Aksi kedua kalinya ini dilakukan lantaran kecewa pemerintah tak mematuhi putusan Mahkamah Agung. Alih-alih menghentikan penambangan di perbukitan karst, Pemprov malah menerbitkan izin baru bagi perusahaan Badan Usaha Milik Negara, PT Semen Indonesia.

Berikut selengkapnya surat terbuka rakyat Kendeng untuk Presiden Joko Widodo;

Bagian 1

Bagian 2

Surat Rakyat Kendeng untuk Presiden Jokowi (Bagian 3) 

Pak Presiden, kalau sikap sewenang-wenang dari para pejabat tinggi di kantor-kantor yang sampeyan pimpin tidak sampeyan hentikan sekarang, artinya pak Presiden mengingkari kewajiban dan tanggungjawab melindungi warga-negara Republik Indonesia dan sumber kehidupannya sebagai petani dari ancaman nyata, yaitu adanya operasi industri semen. Perusakan dengan menambang bahan galian sampai menghasilkan semen tidak bisa dipertemukan dengan cara hidup sehari-hari kami sejak nenek-kakek kami sebagai wong tani, untuk menanam memelihara memanen bahan pangan yang tak tergantikan pentingnya buat kami dan orang banyak.

Waktu mau coblosan pemilihan Presiden dulu, kami ini ya benar-benar bangga mau punya Presiden yang merakyat, sederhana, yang tutur kata dan sikapnya menunjukkan kedekatan dengan rakyat. Dalam beberapa tahun terakhir ini, kami ya dibikin bingung, terutama oleh aparat dari yang paling dekat dengan dusun kami, sampai ke kepala daerah, sampai-sampai ke menteri- menteri, sampai ke pengurus kantor pak Presiden sendiri. Anak-anak muda yang paling peduli dari desa-desa kami malah ditakut-takuti, mau diperkarakan polisi, dicari-cari kesalahan tindakannya. Tindakan kami membela negeri kami yang kami warisi dengan kerja keras disalah-salahkan sebagai perbuatan tercela.

Sejak pamitan dengan orang-orang terkasih kami di dusun, sejak kami berdoa bersama, ngomong langsung sama Gusti Allah sebelum berangkat ke depan kantor pak Presiden, bukan perempuan bukan laki kami diam-diam pada keluar air mata. Bukan karena ketakutan, bukan karena kami ini sentimentil, tapi karena membayangkan anak-anak kami, akan mewarisi hidup seperti apa mereka, kalau para pegawai yang diupah dengan uang milik publik, menista mereka seperti layaknya memperlakukan hewan melata. Pak Presiden jangan pernah lupa ya pak, rakyat memang kecil-kecil, tapi apa-apa yang kami kerjakan menentukan hidup matinya bangsa dan negara kita ini.

Jakarta, 14 Maret 2017
Tertanda
Atas Nama Petani Pegunungan Kendeng
Joko Prianto (Rembang) - Sukinah (Rembang) - Suparmi (Rembang) Jumikan (Rembang) - Sudiri (Rembang) - Giyem (Pati) - Gunritno (Pati) - Darto (Pati) - Sariman (Pati) - Kumari (Blora) Darto (Grobogan) dan lain-lain. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!