Surat Rakyat Kendeng untuk Presiden Jokowi (Bagian 1)

"Protes ini telah kami lakukan sebelumya, dan kali ini kami berniat menyemen kaki kami sampai pak Presiden tampil kembali sebagai pemimpin rakyat, dan menghentikan seluruh kegiatan industri semen"

Rabu, 15 Mar 2017 10:50 WIB

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Petani pegunungan  Kendeng, Jawa Tengah melakukan aksi menyemen kaki di depan istana presiden. Aksi kedua kalinya ini dilakukan lantaran kecewa pemerintah tak mematuhi putusan Mahkamah Agung. Alih-alih menghentikan penambangan di perbukitan karst, Pemprov malah menerbitkan izin baru bagi perusahaan Badan Usaha Milik Negara, PT Semen Indonesia.

Berikut selengkapnya surat terbuka rakyat Kendeng untuk Presiden Joko Widodo;

Surat Rakyat Kendeng untuk Presiden Jokowi (Bagian 1)

Kami adalah bagian dari warga desa-desa di bentang alam karst Kendeng yang akan bangkrut penghidupan taninya karena adanya pabrik semen PT Semen Indonesia di Rembang beserta penambangan bahan semen lainnya di wilayah kami. Kami datang kembali berbondong-bondong ke ibu kota negara, untuk rawe-rawe rantas, malang-malang putung menyemen kaki kami di depan Istana Presiden. Bentuk protes ini telah kami lakukan sebelumya, dan kali ini kami berniat menyemen kaki kami sampai pak Presiden tampil kembali sebagai pemimpin rakyat, dan menghentikan seluruh kegiatan industri semen di wilayah hidup kami.

Buat apa kami bersusah payah mengambil risiko? Kami menyerahkan diri kami sebagai petani untuk membela kewarasan bangsa dan keutuhan negara Republik Indonesia. Kami memprotes tindakan pemerintah, pengurus negara Republik Indonesia, yang sejak 2012 telah mempermainkan kami sebagai warga negara, petani, warga bangsa. Dengan taktik petak umpet melawan ketentuan dan kepastian hukum negara, mengabaikan pendapat kami, untuk tetap meneruskan penanaman modal di industri semen PT Semen Indonesia di Rembang.

Pak Presiden, kami juga tahu, bahwa sebagian besar pegawai kantor-kantor pemerintahan yang sampeyan pimpin sesungguh-sungguhnya masih setia mengabdi sebagai pegawai negeri. Justru yang menyusahkan hidup kami, melecehkan martabat kemanusiaan kami, memecah-belah persatuan kami orang desa dari pegunungan Kendeng, menyalahkan kami seolah-olah kami ini orang jahat, adalah kepala-kepala kantor pemerintah, para pegawai-negeri yang paling tinggi pangkatnya, dosen-dosen universitas yang paling tinggi tingkat pendidikannya, dan paling tahu aturan hukum dan undang-undang, tapi menjadikan hukum, undang-undang dan peraturan untuk menipu rakyat, artinya, untuk menipu diri sendiri juga.

Bagian 2

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Bamus Tunda Penggantian Setnov

  • Hoaks 8 Penyakit Tak Ditanggung BPJS Resahkan Warga Bengkulu
  • Salah Sasaran, Puluhan Ribu Penerima PKH Dihapus
  • Koresponden Asia Calling di Pakistan Terima AGAHI Award

PLN menggenjot pemerataan pasokan listrik dari Indonesia bagian barat hingga Indonesia bagian timur