Sidang Ahok, Ahli Linguistik UI: Jangan Percaya Gosip

"Satu teks tidak pernah berdiri sendiri. Teks ini muncul ada teks terdahulu."

Selasa, 21 Mar 2017 12:19 WIB

Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok berjalan memasuki ruang persidangan di PN Jakarta Utara, Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (21/3). (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Pidato Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu bermaksud untuk meyakinkan masyarakat agar bergabung dengan program budi daya ikan kerapu.   Ahli linguistik Universitas Indonesia Rahayu Surtiati  yang dihadirkan dalam persidangan kasus dugaan penistaan agama mengatakan, untuk memahami pesan dari pidato tersebut harus dilakukan analisis secara utuh, termasuk mengaitkan dengan konteks sejarah yang ada.

"Satu teks tidak pernah berdiri sendiri. Teks ini muncul ada teks terdahulu.  Harus dianalisa hal-hal terkait. Kalau mau memahami pesan secara utuh kita harus eksplore kehadiran serupa di masa lalu," ujar Rahayu, Selasa (21/3).

Rahayu mengacu pada tulisan Ahok di buku "Mengubah Indonesia". Di situ, Ahok menceritakan bahwa kala ia maju dalam pemilihan Bangka Belitung, ada selebaran ajakan tidak memilih dia menggunakan dasar surat Al Maidah ayat 51.

Konteks sejarah ini menurutnya sangat penting karena menunjukkan Ahok bicara berdasarkan pengalaman yang pernah dia alami. Menurut Rahayu, warga Kepulauan Seribu juga tahu bahwa ada orang yang menghimbau untuk tidak memilih Ahok. Ini ditunjukkan dari reaksi warga yang tertawa menanggapi kata-kata tersebut.

Ujaran "dibohongi pakai Al maidah 51" itu menurut dia tidak bisa berdiri sendiri karena tidak memilijiki subjek. Dia harus mengacu pada induk kalimatnya, yakni "jangan percaya sama orang".

Dia juga mengatakan bahwa kata-kata "jadi jangan percaya sama orang" yang diucapkan Ahok tidak mengacu pada sosok tertentu. Berdasarkan ilmu linguistik, kata orang menurutnya juga telah bergeser maknanya menjadi desas-desus.

"Dia tidak menunjuk seorang. Dia ke idiom jangan percaya desas-desus gosip."


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau