Rusak Terumbu Karang, KLHK Turunkan Tim Hukum Jerat Kapal Inggris

"Saya bilang ke tim, diteliti saja sebaik-baiknya karena kita harus menaksir kerugiannya berapa."

Selasa, 14 Mar 2017 21:24 WIB

Kapal pesiar Caledonian Sky asal Inggris yang merusak terumbu karang di Raja Ampat, Papua (Foto: news.kkp.go.id)


KBR, Jakarta- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengirimkan tim hukum dan penyelam untuk meninjau terumbu karang di Raja Ampat, Papua, yang rusak tertabrak kapal pesiar Caledonian Sky asal Inggris. Menteri LHK Siti Nurbaya mengatakan sudah memerintahkan tim yang turun untuk membuat berita acara hasil penelitian. Nantinya, berita acara itu akan menjadi bukti dan menagih pertanggungan jawab dari operator dan pemilik kapal tersebut.

"Sesuai UU Lingkungan saja, sekarang sedang dipetakan luas kerusakannyakan luasannya berbeda-beda ada yang bilang 1300, ada yang bilang 1600 meter persegi macam-macam. Saya bilang ke tim, diteliti saja sebaik-baiknya karena kita harus menaksir kerugiannya berapa. Saya kira ini baru pertama kali ya terumbu karang rusak ditabrak. Kalau tumpahan minyak sering ya," jelas Menteri KLHK Siti Nurbaya di Kantor Kepresidenan, Selasa (14/3/2017).

Sementara, Menteri Koordinator Bidang Maritim Luhut Binsar Panjaitan menambahkan, tim sedang bergerak untuk meneliti tingkat kerusakan dan luasan lahan yang rusak. "Kita tunggu sampai satu dua hari ini bagaimana," katanya di Kantor Kepresidenan, Selasa (14/3/2017).

Luhut juga menyesalkan lambannya pemerintah daerah dalam menangani masalah tersebut. Kata dia, pemerintah daerah seharusnya bisa menyelesaikan dan meminta pertanggungan jawab dari kapal tersebut saat kejadian.

"Kelemahan kita mungkin di daerah ada kasus seperti itu tidak cepat. Seharusnya ditangani dulu. Saya juga terima laporan waktu melepaskan kapal waktu kandas cara nariknya salah sehingga tambah rusak, seharusnya tidak ke depan, itu memang harus kita perbaiki," tambahnya.

Sebelumnya, kapal pesiar Caledonian Sky asal Inggris menabrak terumbu karang di gugusan kepulauan Raja Ampat, Papua Barat. Daerah yang rusak merupakan jantung dan lokasi favorit wisatawan.

Editor: Dimas Rizky 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau