Petani Teluk Jambe Korban Sengketa Lahan Merasa Ditelantarkan

"Bupati menaruh petani hampir 200 orang di rusun. Padahal rusun bukan untuk petani. Dan bantuan dari Pemkab Kawarang seperti makanan-minuman tidak diberikan lagi."

Rabu, 15 Mar 2017 20:06 WIB

Ilustrasi. (Foto: setkab.go.id/domain publik/2014)


KBR, Jakarta - Kalangan petani korban konflik lahan di kawasan Teluk Jambe, Kabupaten Karawang dituding menelantarkan para petani korban konflik lahan dengan perusahaan properti PT Pertiwi Lestari.

Salah seorang pendamping petani, Maman Nuryawan mengatakan seratusan lebih petani yang tinggal di penampungan kini tidak mendapat bantuan seperti makanan dan minuman. Selain itu, anak-anak petani juga terpaksa putus sekolah.

"Jadi kondisi yang dialami para petani sekarang ini sangat mengkhawatirkan. Mereka sudah terusir dari lahannya. Bupati menaruh petani hampir 200 orang di rusun. Padahal rusun bukan untuk petani. Dan bantuan dari Pemkab Kawarang seperti makanan-minuman tidak diberikan lagi. Semakin parah kondisinya," kata Maman kepada KBR, Rabu (15/3/2017).

Baca juga:


Maman menambahkan saat ini lahan yang disengketakan antara petani dengan perusahaan pengembang PT Pertiwi Lestari berangsur-angsur diratakan dengan tanah. Sejak dua hari lalu, PT Pertiwi Lestari merobohkan sejumlah rumah milik petani yang telah ditinggalkan sejak beberapa bulan lalu.

Akan mengadu ke Jokowi

Seratusan lebih petani asal Teluk Jambe, Karawang, Jawa Barat berencana melakukan aksi jalan kaki (longmarch) menuju Istana Presiden di Jakarta. Mereka ingin mengadu ke Presiden Joko Widodo terkait kondisi mereka yang mengenaskan pasca tinggal di penampungan.

"Bupati Karawang sudah tidak memiliki itikad baik terhadap para petani. Itu sebab kami mencoba mengadukan hal ini ke Jakarta," kata Maman Nuryawan.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi