Bu Patmi (nomor tiga dari kiri), peserta aksi dipasung semen saat diperiksa tim dokter RSCM di LBH Jakarta, Jumat (17/3/2017). Patmi meninggal empat hari kemudian, pada Selasa (21/3/2017). (Foto: Rio


KBR, Pati - Hari keberangkatan Patmi (48 tahun) dari Pati menuju Jakarta pada Rabu (15/3/2017) petang lalu menjadi hari terakhir pertemuannya dengan dua anaknya, Sri Utami (29 tahun) dan Muhamadun Daiman (22 tahun) serta seorang cucu.

Patmi berada dalam rombongan warga Pati yang turut memberikan dukungan bagi rekan-rekannya penolak pabrik semen di Rembang, Jawa Tengah.

Ia termasuk dalam gelombang ketiga peserta aksi mengecor kaki dengan semen. Sebelumnya sekitar 20 orang warga Pegunungan Kendeng lainnya dari Rembang dan Sukolilo (Pati) lebih dulu mengecor kaki pada Senin hingga Rabu.

Patmi berangkat bersama rombongan sekitar 50 orang, termasuk sejumlah perempuan yang tinggal satu RT dengannya, seperti Dasmi, Suparmi dan Giyem.

Setiba di Jakarta, Patmi dan rombongan beristirahat sehari semalam. Menurut informasi yang diterima keluarga di Pati, Patmi tidak punya riwayat penyakit kronis. Karena itu ia dinyatakan sehat oleh tim dokter dan diperbolehkan ikut aksi dipasung semen pada sepasang kakinya.

"Niku berangkat rak mbelo keadilan, tuntutan warga. Niku rak neng PTUN Semarang dimenangke warga. Jadi niku nuntut keadilan Jokowi, supoyo Pulau Tanah Jowo gak ono pabrik semen. Sing dikarepno anane nganti dicor kaki niku wilayahe awake dewe ben aman. (Itu Patmi berangkat ke Jakarta untuk membela keadilan. Tuntutan warga. Di PTUN kan sudah dimenangkan warga. Jadi ini menuntut keadilan ke Jokowi, supaya Pulau Jawa tidak ada pabrik semen. Ia bersedia dicor kakinya supaya wilayahnya bisa aman)," kata Jasmo, perwakilan keluarga Patmi di Pati kepada KBR, Selasa (21/3/2017).

Baca juga:


Jasmo merupakan Ketua RT 3/RW 1, Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati. Rumahnya bersebelahan dengan rumah Patmi. Jasmo mewakili keluarga Patmi, karena dua anak Patmi belum bersedia memberikan pernyataan terkait meninggalnya ibunya.

Kabar meninggalnya Patmi diterima keluarga di Pati, pada Selasa pagi, sekitar pukul 04.00 hingga 04.30 WIB.

"Informasinya tadinya (Bu Patmi) baik-baik saja. Tiba-tiba mengeluh lemas. Setelah cor kaki dilepas, dia diantar ke kamar mandi. Ternyata badan terasa dingin dan pingsan. Lalu di bawa ke rumah sakit," kata Jasmo dalam bahasa Indonesia bercampur Jawa. Jasmo menirukan informasi yang ia terima dari dulur-dulur yang ikut aksi di Jakarta.

Tidak ada firasat dari keluarga, bahwa keberangkatan Patmi ke Jakarta untuk ikut berjuang menolak pertambangan kapur dan pabrik semen benar-benar menjadi perjuangan hingga akhir hayat.

Sebelum berangkat ke Jakarta, Patmi sempat berpesan kepada anaknya Sri Utami untuk menjaga sawahnya. "Tolong sawahnya dijaga, diberi pupuk dan disemprot. Jangan sampai sawahnya puso," kata Jasmo menirukan pesan Patmi.

Patmi juga sempat berpesan kepada cucu semata wayang, anak dari Sri Utami. "Jangan nakal ya, Mbah mau berjuang ke Jakarta," kata Jasmo menirukan.

Pada saat Patmi meninggal, sang suami yaitu Rosad tengah berada di Sumatera. Rosad berangkat ke Sumatera sehari sebelum keberangkatan Patmi ke Jakarta. Mestinya, hari ini Rosad sudah mulai kerja di perkebunan di Sumatera. Namun hari ini ia harus kembali lagi ke Pati untuk menghadiri pemakaman istrinya.

Jenazah Patmi dan rombongan petani meninggalkan Jakarta pada Selasa pagi.

"Begitu jenazah sampai, mungkin dilanjutkan pemakaman, mungkin juga disemayamkan dulu," kata Jasmo.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!