Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I, BI Perkirakan 4,99 sampai 5 Persen

"Dibandingkan kuartal empat, lebih baik ya. Tetapi juga bukan bukan suatu signifikan lebih baik, bisa dibilang flat agak lebih baik.

Sabtu, 18 Mar 2017 14:00 WIB

Ilustrasi (sumber: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Bank Indonesia memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2017 akan mencapai 4,99 sampai 5 persen. Deputi Gubernur Senio BI Mirza Adityaswara mengatakan, perkiraan itu memang lebih baik dibanding kuartal terakhir 2016.

Kata Mirza, pada kuartal ini, ada sedikit perbaikan, meski masih cenderung masih datar atau flat.

"Dibandingkan kuartal empat, lebih baik ya. Tetapi juga bukan bukan suatu signifikan lebih baik, bisa dibilang flat agak lebih baik. Karena pada kuartal empat 2016 kan pemerintah menahan disbursement, karena dalam rangka menahan defisit. (Di bawah 5 persen?) Nanti kita lihat, karena kalau now casting BI ya mungkin 4,99 sampai 5,0 sekian persen lah. Kalau kita bisa tumbuh 5,0 persen itu juga sudah suatu prestasi," kata Mirza di kantornya, Jumat (17/03/17).

Mirza mengatakan, pada kuartal keempat 2016 lalu, pertumbuhan ekonomi memang melambat karena pemerintah cenderung menahan penyerapan anggaran. Menurutnya, strategi itu ditempuh agar defisit anggaran tidak melebar.

Mirza berujar, pada kuartal ini, meski tak signifikan, kondisi ekonomi Indonesia sudah lebih baik dibanding kuartal lalu. Kata Mirza, pendorong pertumbuhan pada kuartal ini misalnya investasi yang meningkat, konsumsi yang masih tinggi, serta kinerja ekspor yang membaik.

Pada sepanjang 2016, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,02 persen. Pada kuartal pertama 2016, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 4,92 persen, sedangkan kuartal terakhirnya sebesar 4,94 persen. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!