Mentan: Ada Perusahaan Mau Beli Cabai Petani Rp180 Ribu per Kg

Harga cabai masih bertahan tinggi disebabkan ada sejumlah perusahaan yang membeli cabai, terutama jenis rawit merah, dengan harga Rp180 ribu sehingga harga di tingkat petani terus merangkak naik.

Jumat, 10 Mar 2017 15:08 WIB

Seorang pedagang menyortir cabai rawit merah di Pasar Peterongan, Semarang, Jawa Tengah, Senin (6/3/2017). Harga cabai di Semarang sempat turun karena ada operasi pasar. (Foto: ANTARA)


KBR, Cilacap - Menteri Pertanian Arman Sulaiman mengatakan harga cabai tetap bertahan di harga tinggi lantaran pemerintah menutup keran impor. Penutupan keran impor itu dimaksudkan untuk melindungi petani dalam negeri.

Menteri Arman meminta petani mengambil kesempatan untuk bertani cabai, komoditas yang saat ini langka di pasaran. Menurut dia, masyarakat Indonesia harus berfikir positif menyikapi harga cabai yang tinggi ini.

Selain menutup keran impor, menurut Amran, harga cabai masih bertahan tinggi disebabkan ada sejumlah perusahaan yang membeli cabai, terutama jenis rawit merah, dengan harga Rp180 ribu sehingga harga di tingkat petani terus merangkak naik.

Amran mengatakan kondisi ini merupakan kesempatan bagi petani untuk mengambil untung. Pasalnya, berdasarkan informasi yang diterimanya, cabai rawit Indonesia berkualitas sangat bagus.

"Sekarang tidak impor beras, tidak impor bawang, tidak impor caabai, sehingga harganya tinggi. Kenapa? Perusahaan-perusahaan besar, ternyata aku dapat laporan, cabai Indonesia itu menurut mereka begitu baik (kualitasnya). Cabai Indonesia yang baru ditanam pada tahun 2015, pada pemerintahan Jokowi-JK. Aku tanya, perusahaan sampai kontrak seharga Rp180 ribu per kilogram. Sehingga mengalir ke mereka. Saya bilang, ‘Pak Dirjen, jangan mengeluh, ayo tanam! Mumpung dia mau beli mahal’. Terus bagaimana impornya, tutup impornya," kata Amran Sulaiman di Cilacap, Jumat (10/3/2017).

Amran yakin, harga cabai akan kembali stabil tahun ini. Namun, stabilisasi harga ini menurut dia harus berasal dari hasil pertanian dalam negeri, bukan dari impor.

Lebih lanjut Amran mengemukakan, kebijakan menutup keran impor juga pernah dilakukan terhadap beras. Satu dua tahun pertama, menurut dia sempat terjadi goncangan, tetapi pada tahun ketiga Indonesia justru bersiap mengekspor beras ke negara tetangga.

Dalam kunjungan ke Cilacap, Amran juga menyaksikan panen raya menggunakan mesin sekaligus tranplantasi benih padi dengan mesin otomatis. Amran juga membagikan 15 traktor kepada kelompok tani dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Cilacap.

Dalam kesempatan yang sama, Amran juga menyaksikan pendatanganan kontrak pembelian gabah dari petani langsung ke Bulog.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU

  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI
  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara

Jokowi Tanggapi Komentar Prabowo Soal Ambang Batas 20 Persen

  • Dampak Kenaikan Gaji Tak Kena Pajak Mulai Dorong Konsumsi Masyarakat
  • Pemerintah Dinaikkan Harga Pokok Beras
  • Pemkab Bondowoso Bayar Wartawan Minimal Rp200 Ribu per Berita

Fasilitas KITE IKM diharapkan menjadi jawaban untuk mendorong industri kecil dan menengah untuk terus bergeliat meningkatkan ekspor di tanah air.