Membobol 7 Bank Kurang dari Setahun, Dua Orang Menyikat Rp800-an Miliar

"Ini kredit macet yang di dalamnya ada kejahatan. Jadi perusahaan mengajukan kredit dan mempailitkan untuk menghindari pembayaran kredit," ujarnya.

Kamis, 09 Mar 2017 22:24 WIB

Ilustrasi.

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta - Badan Reserse Kriminal (Bareskirm) Mabes Polri mengungkap kasus dugaan pembobolan uang di tujuh bank senilai Rp 836 miliar.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Mabes Polri, Agung Setya mengatakan, dua orang telah dikenai status tersangka berinisial D dan HS. Dua orang itu melakukan kejahatan perbankan selama 10 bulan, sejak Maret hingga Desember 2015.

Tersangka D bertindak sebagai seorang manajer representatif sebuah bank. Sementara, HS adalah pihak yang mengajukan kredit dari PT Rockit Aldeway.

"Pelaku di sini saudara HS, mengajukan kredit yang sekarang kita identifikasi ada di tujuh bank dengan permohonan kredit modal kerja (KMK). Permohonan kredit yang sudah disurvei itu, dia mempengaruhi representatif manajer untuk lakukan hal menyimpang. Sehingga kemudian permohonannya disetujui," kata Agung Setya di Bareskirm Polri, Jakarta Pusat, Kamis (9/3/2017).

Agung Setya menjelaskan, tersangka HS menyuap D selaku manajer representatif sebuah bank sebesar dengan suap sebesar Rp700 juta untuk meloloskan kredit yang diajukannya. Setelah semua kredit berhasil dicairkan, pelaku D mempailitkan perusahaannya agar terhindar dari hutang.

"Ini kredit macet yang di dalamnya ada kejahatan. Jadi perusahaan mengajukan kredit dan mempailitkan untuk menghindari pembayaran kredit," ujarnya.

Pengungkapan kasus ini berawal dari adanya laporan empat bank. Menindaklanjuti laporan ini, kata Agung, Bareskrim menemukan tujuh bank yang menjadi korban. Namun ia enggan menyebut tujuh bank yang dibobol tersebut.

"Untuk porsi bank pemerintah, kerugiannya sebesar Rp398 miliar, sedangkan bank swasta Rp438 miliar," kata Agung.

Dua tersangka itu dijerat sejumlah pasal, yakni Pasal 49 ayat (2) UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, Pasal 263 dan 378 KUHP tentang pemalsuan, serta Pasal 3 dan 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Dua orang itu terancam hukuman lebih dari 15 tahun penjara.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau