Karena Reklamasi, Petani Bandeng di Serang Banten Beralih Profesi Jadi TKI

Para nelayan dan petani bandeng di Serang kehilangan pekerjaan setelah lokasi pesisir pantai di Serang longsor akibat penyedotan pasir dari bawah pesir.

Kamis, 16 Mar 2017 19:39 WIB

Ilustrasi kapal penyedot pasir. (Foto: ANTARA)


KBR, Jakarta - Kalangan petani budidaya bandeng dari Serang Utara di Pantai Pontang, Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten merugi banyak akibat kegiatan reklamasi di Teluk Jakarta.

Karena kehilangan mata pencaharian, sebagian warga beralih profesi menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.

Pengacara dari LBH Jakarta Tigor Hutapea mengatakan para nelayan dan petani bandeng di Serang kehilangan pekerjaan setelah lokasi pesisir pantai di Serang longsor akibat penyedotan pasir dari bawah pesir.

Pengambilan pasir itu hampir setiap hari dilakukan oleh kapal berukuran besar disekitar pesisir pantai, untuk diangkut menjadi bahan baku utama reklamasi Teluk Jakarta.

Tigor mengatakan para petani sekitar pantai baru mengetahui ada penyedotan pasir, setelah melihat bentuk kapal yang memiliki belalai atau selang penyedot berukuran besar di bagian bawah perut kapal. Setelah keberadaan kapal itu, banyak jaring nelayan hilang akibat ikut tersedot bersama material pasir yang diangkut.

"Awalnya masyarakat itu nggak tau. Tapi karena daya sedot kapal itu besar, beberapa jaring warga itu ada yang hilang dan akhirnya mengakibatkan longsor sekitar 700 hektar. Lahan tersebut merupakan lahan dari petani bandeng. Jadi para petani mengalami kerugian yang cukup besar," ujar Tigor Hutapean kepada KBR, Rabu (15/3/2017).

Baca juga:


Tigor Hutapea saat ini menjadi kuasa hukum bagi nelayan penggugat reklamasi Teluk Jakarta, baik nelayan dari Jakarta Utara maupun dari Serang, Banten.

Selain kerugian material karena kehilangan mata pencaharian, warga sekitar juga sempat bersitegang dengan operator kapal pengangkut pasir. Bahkan sempat terjadi baku tembak yang mengakibatkan beberapa warga terluka. Warga juga sempat melakukan demo di tengah laut menghadang kapal tersebut, namun kalah karena ukuran kapal pengangkut pasir terlalu besar.

"Kerugian warga sulit dihitung, tapi dari satu hektar lahan bandeng saja bisa menghasilkan Rp30 hingga Rp40 juta rupiah sekali panen. Bahkan yang disayangkan, sempat terjadi penembakan, sampai beberapa warga terluka. Mereka sudah pernah mengadu kepada pemerintah daerah tapi tidak banyak yang dilakukan, dan akhirnya mereka hanya ditanggapi keluhannya saja," tambah Tigor.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau