Kapolri: Kelompok Teror Indonesia Berjaringan Dengan Malaysia

"Koneksi antara kelompok-kelompok ndonesia dengan yang ada di Malaysia itu sudah biasa. Sudah lama sekali, dulu juga saat zaman Jemaah Islamiah serta DI/TII"

Rabu, 08 Mar 2017 16:20 WIB

Ilustrasi: Barang bukti bahan peledak dan senjata yang disita dari penggrebekan sarang teroris. (Foto: Antara)


KBR, Bandung- Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Tito Karnavian menyebutkan kelompok teror tanah air berjaringan dengan kelompok serupa di negara Malaysia. Hal itu dikatakan oleh Tito Karnavian saat dikonfirmasi keterlibatan seorang warga negara Indonesia (WNI) yang diduga berencana melakukan pengeboman terhadap Raja Arab Salman saat berkunjung ke Malaysia beberapa waktu lalu.

Kepastian adanya WNI yang terlibat rencana aksi teror tersebut, diperoleh Tito dari perwakilan Kepolisian RI di Malaysia.

"Koneksi antara kelompok-kelompok (teror) Indonesia dengan yang ada di Malaysia itu sudah biasa. Sudah lama sekali, dulu juga saat zaman Jemaah Islamiah serta DI/TII pun pada saat mereka diserang di sini larinya ke Serawak. Pada saat Jemaah Islamiah, juga larinya ke Malaysia. Pelaku dari Malaysia pun larinya ke sini seperti Azhari, Noordin M Top begitu ya," kata Tito Karnavian di Bandung, Jawa Barat, Rabu 8 Maret 2017.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Tito Karnavian mengatakan jaringan kelompok teror itu tidak hanya sebatas bilateral, namun sudah sampai ke jaringan teror regional.

Tito menyebutkan untuk meredam jaringan teror tersebut, Detasemen Khusus 88 Antiteror bekerjasama dengan pasukan antiteror Malaysia.

Sebelumnya dikabarkan sebanyak tujuh tersangka teror ditangkap di Malaysia dengan tuduhan berencana menyerang Raja Arab, Salman saat berkunjung. Seorang pelaku teror diidentifikasi merupakan WNI.  


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!