Kapal Penangkap Tuna Tanpa Identitas dan ABK Ditemukan di Perairan Cilacap

"Ini kapal jenis penanggkap ikan, jenis eks-Taiwan. Kondisi tenggelam, tenggelam separuh. Segala kemungkinan bisa terjadi ya. Jadi kita kembangkan untuk penyelidikannya."

Selasa, 14 Mar 2017 08:04 WIB

Kapal Tanpa Identitas dan ABK ditemukan di Samudera Hindia Selatan Cilacap. (Foto: KBR/Muhamad Ridlo).

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Cilacap– Sebuah kapal tanpa awak   dan tanpa identitas ditemukan di perairan Samudera Hindia sebelah selatan Cilacap, Jawa Tengah.  Kepala Satuan Polisi Perairan Cilacap, Huda Syafii mengatakan kapal tersebut ditemukan sekitar 75 mil laut sebelah selatan Cilacap. Ketika ditemukan oleh nelayan, kapal tersebut sudah separuh tenggelam.
 
Kemudian oleh nelayan penemuan kapal ini dilaporkan ke Satpol Air. Selanjutnya kapal ini diseret ke Dermaga III Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC), Sabtu (11/3/2017).
 
Huda mengungkap, hingga saat ini pihaknya masih menyelidiki kapal jenis longline atau penangkap tuna berbobot kurang lebih 85 gross ton (GT) itu. Kata dia, jika dilihat dari ciri-ciri buritan dan anjungannya, jenis kapal ini bukanlah jenis kapal lokal Indonesia. Biasanya, jelas Huda, kapal berbentuk buritan melebar seperti kapal tanpa identitas ini merupakan jenis kapal panangkap ikan Taiwan.
 
Soal ketiadaan awak dan identitas tersebut, Huda mengaku masih membuka tiap kemungkinan. Bisa jadi, kapal tersebut merupakan korban perompakan. Atau kemungkinan lainnya, digunakan untuk menyelundupkan imigran gelap atau mengalami kecelakaan air.
 
Huda menegaskan, sebelum peristiwa ini, tidak ada laporan kapal hilang dari nelayan lokal Cilacap dan Jawa Tengah dan Jawa Barat.

“Selanjutnya tim Terpadu, kami dari Polair dari Angkatan Laut dan Pengawas Perikanan kami menyelidiki lebih lanjut apa penyebabnya. Karena ini tidak ada identitas dan tidak ada ABK. Ini kapal jenis penanggkap ikan, jenis eks-Taiwan. Kondisi tenggelam, tenggelam separuh. Segala kemungkinan bisa terjadi ya. Jadi kita kembangkan untuk penyelidikannya. Sementara ini (kapal) sudah rusak. Kalau dari bekas teritipnya ini kelihatan sudah lama,” jelas Huda Syafii, Senin sore (13/3/2017).
 
Lebih lanjut Huda menjelaskan, mesin kapal tersebut masih terpasang. Namun, peralatan tangkap ikan sebagaimana jenis kapal longline tidak ada. Peralatan memasak dan perlengkapan hidup lain ABK juga dalam keadaan kosong.
 
Sementara, saat KBR menaiki kapal tersebut, tampak teritip (kerang) banyak menempel di sekujur badan kapal bagian dalam. Berdasar keterangan nelayan, teritip di perairan dangkal membutuhkan waktu sekitar 2 bulan untuk tumbuh di badan kapal bagian luar.
 
Namun, jika berada di tengah lautan dalam dan berair jernih, membutuhkan waktu yang lebih lama. Soal ini, Huda menduga kapal tersebut kosong dan terombang-ambing di tengah laut lebih dari tiga bulan.
 
Pengamatan secara visual, anjungan kapal jebol di bagian dinding dan lantainya keropos. Kaca depan nahkoda juga jebol. Lantai atas palka kapal juga lapuk sehingga berbahaya ketika diinjak. Beberapa bagian lantai juga terlihat keropos.

  Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!