Jokowi di Luar Jakarta, KSP Bujuk Aksi Kendeng Dihentikan

Teten berharap para petani Kendeng mengakhiri aksi mengecor kaki mereka dengan semen. Teten mengatakan telah mengirimkan tim untuk membujuk para petani.

Sabtu, 18 Mar 2017 12:00 WIB

Petani Kendeng, Sariman (56 tahun) ikut aksi dipasung semen pada kakinya di depan Istana Negara, Jumat (17/3/2017). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Presiden Joko Widodo belum akan menemui petani warga Pegunungan Kendeng Jawa Tengah yang telah lima hari melakukan aksi 'Dipasung Semen' di depan Istana Merdeka.

Kepala Staf Presiden (KSP) Teten Masduki mengatakan saat ini Presiden Joko Widodo tengah melakukan kunjungan kerja ke Kalimantan Barat. Sementara, Teten juga mengaku sedang tidak berada di Jakarta.

"Presiden lagi di Kalbar dan saya lagi di Medan," kata Teten ketika dihubungi melalui pesan singkat, Jumat (17/3/2017).

Jumat kemarin, Kepala KSP Teten Masduki memang sedang berada di Tanjung Gsta, Sumatera Utara untuk membuka acara Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) V.

Teten berharap para petani Kendeng mengakhiri aksi mengecor kaki mereka dengan semen. Teten mengatakan telah mengirimkan tim untuk membujuk para petani.

"Ada tim saya sedang membujuk untuk mengakhiri dulu aksi mereka. Dhani (Jaleswari Pramodhawardani) dan Yanuar (Nugroho)," tambahnya.

Aksi "Dipasung Semen" jiid II, sudah berlangsung lima hari, semenjak Senin hingga Jumat kemarin. Hingga kemarin ada 50 warga dan aktivis yang mengikuti aksi mengecor kaki mereka dengan semen.

Teten menyatakan masyarakat Kendeng terpecah dalam menanggapi isu semen. Karenanya, ia menyebut lebih baik menunggu rampungnya Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Kendeng.

"Masyarakat Kendeng terpecah, yang pro dan kontra. Sebaiknya memang tunggu hasil KLHS," tandas Teten.

Pada Sabtu (18/3/2017) hari ini aksi dihentikan sementara. Para peserta aksi dan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) akan menggelar diskusi tentang karst di kantor LBH Jakarta.

Hingga semalam, dari pemeriksaan tim dokter RSCM terhadap 50 orang yang mengikuti aksi ada tiga orang peserta aksi yang direkomendasikan untuk dilepas cor semen dari kaki mereka karena mengalami pembengkakan.

Baca juga:


Penolakan sejak 2014

Penolakan pendirian pabrik semen PT Semen Indonesia di Kecamatan Gunem, Rembang, terjadi sejak 2014 lalu, karena khawatir mengancam kelestarian sumber daya air dan lingkungan sekitar.

Sebelum dibangun pabrik PT Semen Indonesia, kawasan pegunungan karst Kendeng di Kabupate Rembang selama ini sudah ditambang oleh belasan perusahaan tambang lain. PT Semen Indonesia menyatakan jika pabrik PT Semen Indonesia dilarang semestinya pemerintah juga menghentikan kegiatan pertambangan lain yang sudah lebih dulu beroperasi di kecamatan tetangga (Kecamatan Sale) seperti PT Sinar Asia Fortune (SAF), PT ICCI, PT Amir Hajar Kilsi, PT Rembang Bangun Persada (PT Bangun Artha), dan tambang rakyat lain.

Juru bicara PT Semen Indonesia, Agung Wiharto mengatakan jika KLHS ditujukan untuk semua perusahaan tambang, maka penghentian aktivitas semua perusahaan tidak bisa menunggu izin usaha mereka habis. Sebab, hal tersebut akan memakan waktu yang lama.

"Nanti kalau muncul kata-kata ya sudah nambang sampai IUP-nya habis. Ya itu sama saja bohong, ada masih yang 10 tahun, ada yang 15 tahun," kata Agung.

Pada Februari 2017 lalu, warga Rembang penolak pabrik semen menggelar aksi di jalan masuk menuju lokasi pabrik PT Semen Indonesia di Rembang. Aksi itu berujung pembongkaran dan pembakaran tenda.

Insiden pembakaran tenda itu diikuti penetapan status tersangka terhadap sejumlah warga penolak pabrik semen, termasuk terhadap Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), Joko Prianto.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!