Ibu dan Putrinya Jadi Ujung Tombak Kesehatan Reproduksi di Filipina

Lebih dari 50 persen kehamilan di Filipina tidak direncanakan.

Senin, 13 Mar 2017 11:09 WIB

Amina Evangelista-Swanepoel (kiri) dan ibunya Susan Evangelista (kanan). (Foto: Jofelle Tesorio)

Amina Evangelista-Swanepoel (kiri) dan ibunya Susan Evangelista (kanan). (Foto: Jofelle Tesorio)


Lebih dari 50 persen kehamilan di Filipina tidak direncanakan. Dan yang mengejutkan 14 perempuan Filipina meninggal setiap hari akibat kehamilan dan komplikasi saat melahirkan.

Koresponden Asia Calling KBR di Palawan, Jofelle Tesorio dan Ariel Carlos bertemu dengan seorang ibu dan putrinya. 

Mereka punya misi membantu para perempuan dan kaum muda dengan pelayanan dan pendidikan kesehatan reproduksi yang sangat dibutuhkan.

Hari masih pagi di Kantor Roots of Health di Palawan. 

Tapi para staf sudah sibuk merawat sekelompok perempuan, ada yang sedang hamil sementara yang lain membawa anak-anaknya.

Roots of Health adalah satu-satunya klinik di pulau ini yang menyediakan pelayanan kesehatan dan reproduksi bagi ibu serta pendidikan secara gratis. Ini salah satu dari segelintir klinik serupa di seluruh Filipina.

Dan ada tim yang terdiri dari ibu dan putrinya dibalik inisiatif ini.

Susan Evangelista dan Amina Evangelista-Swanepoel mendirikan Roots of Health pada 2009.

Sebagai pensiunan dosen sastra , Susan yang sudah berusia 75 tahun, sangat memperhatikan pendidikan.

Dia melihat banyaknya kehamilan yang tidak direncanakan telah mempengaruhi pendidikan para mahasiswinya.

“Banyak mahasiwi saya putus sekolah karena hamil meski ada beberapa yang melanjutkan kuliah lagi setelah punya anak. Saya selalu tertarik pada mereka dan jumlahnya ada beberapa di kelas saya,” kisah Susan.

“Menurut saya mengagumkan ketika mereka kembali kuliah karena itu butuh upaya besar. Tapi lebih banyak yang menghilang dan kita hanya bisa melihat apa yang akan terjadi pada mereka.”


Di provinsi Palawan saja 25 persen perempuan hamil adalah remaja.

Dan pendampingan untuk mereka masih sangat sedikit kata Susan. “Anda perhatikan di sekitar sini dan Anda akan merasakan kalau banyak sekali orang-orang yang tidak mendapat layanan kesehatan.”

Putri Susan bernama Amina dulu tinggal di New York.

Dia baru saja menyelesaikan dua gelar Master di bidang Hubungan Internasional dan Kesehatan Masyarakat, ketika Susan datang dengan sebuah ide. 

Gagasan untuk mendirikan sebuah organisasi yang diharapkan bisa membantu mencegah kehamilan yang tidak direncanakan di Filipina.

“Sejujurnya, itu adalah ide setengah matang karena saya punya latar belakan yang berbeda. Bahkan ketika saya mengatakannya pada ibu saya, dia berkata: ‘Bukankah akan lebih baik memberikan uang kepada seseorang yang tahu apa yang mereka lakukan,’” tutur Susan.

Tanpa latar belakang bisnis atau pengetahuan dalam mendirikan LSM, mereka memutuskan untuk mengambil risiko dan mencobanya.

“Kami hanya bilang, ‘Kami akan lihat apa yang bisa kami lakukan. Kami akan berkomitmen untuk dua tahun dan jika pada akhir tahun kedua tidak ada yang terjadi, maka kami akan berhenti dan mencoba hal lain. Tapi setidaknya kami sudah mencoba,’” kenang Amina.

Seorang pekerja kesehatan dari Roots of Health sedang menjelaskan perbedaan kontrasepsi untuk mahasiswa.

Amina percaya program ini sudah membawa dampak yang signifikan.

“Dalam dua tahun terakhir, tim pengajar telah mengajar lebih dari 30 ribu orang muda. Di provinsi Palawan, pada akhir 2016, kami menyediakan alat kontrasepsi gratis untuk enam ribu perempuan tidak mampu,” jelas Amina. 

“Untuk ukuran populasi lebih dari seratus juta, itu bukan jumlah yang besar. Tapi di Puerto atau Palawan, ini bisa membuat perbedaan. Jika Anda berbicara dengan orang muda atau perempuan, mereka akan bercerita bagaimana program ini telah mengubah hidup mereka.”

Sebagai sebuah LSM kesehatan reproduksi di Filipina, mereka kerap ditentang dan merasa frustasi. 

Gereja Katolik yang sangat berpengaruh membuat setiap diskusi tentang seks dan seksualitas menjadi hal tabu.

“Masalah terbesar saya dengan penentangan Gereja Katolik adalah bahwa mereka mengabaikan masalah ini. Jadi ketika mereka bilang, ‘kita seharusnya tidak melakukan pendidikan seks karena akan membuat anak-anak berhubungan seks,’” kata Amina. 

“Saya jawab, ‘bagaimana dengan anak-anak yang sudah berhubungan seks, apa yang akan kita lakukan terhadap mereka?’ Mereka diam, tidak menjawab apa-apa.”


Pemerintah sebelumnya menentang Gereja Katolik dan mengesahkan UU tentang kesehatan reproduksi. UU ini memberikan pendidikan seks yang komprehensif dan akses gratis mendapatkan kontrasepsi seperti kondom bagi siswa sekolah dan perguruan tinggi.

Kini Presiden Rodrigo Duterte ingin UU ini dilaksanakan tapi anggarannya belum dialokasikan.

Meski menghadapi banyak tantangan, pada 2016 Roots of Health menerima Stars Impact Award. Mereka pun mendapat dana untuk menyewa guru dan tenaga kesehatan.

Roots of Health sedang memperluas layanan untuk masyarakat yang lebih terpinggirkan dan berencana membuka layanan kesehatan ramah remaja.

“Pada akhirnya kami ingin orang bisa bicara tentang seks, kontrasepsi, kehamilan yang tidak diinginkan, HIV dan hal terkait tanpa disebut melanggar tabu. Sehingga masalah-masalah ini bisa ditangani dengan lebih lugas dan menurut saya, kami sudah membuat kemajuan,” kata Susan.

Bagi Amina dan Susan, perubahan sikap budaya dan perilaku terhadap kesehatan reproduksi tidak bisa terjadi dalam semalam. Tapi mereka percaya kalau mereka sedang membuat perbedaan besar, selangkah demi selangkah. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!