Fed Fund Rate Naik, Menko Darmin Yakin Tak Akan Pengaruhi Utang Luar Negeri

"Kita kan lebih banyak berutang lewat bond, jadi tidak ada masalah, tidak ada perubahan. "

Jumat, 17 Mar 2017 10:33 WIB

Ilustrasi (sumber: Setkab)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed) sebesar 0,25 persen, tak akan banyak memengaruhi  utang luar negeri pemerintah. Darmin mengatakan, hal itu terjadi karena saat ini pemerintah lebih memilih berutang melalui penerbitan obligasi atau bond, ketimbang berutang langsung pada lembaga keuangan dunia.

"(Kenaikan Fed Fund Rate?) Ya, kita kan lebih banyak berutang lewat bond, jadi tidak ada masalah, tidak ada perubahan. Orang dia harga SUN-nya (surat utang negara AS) malah turun," kata Darmin di kantornya, Jumat (17/03/17).

Darmin mengatakan, kenaikan Fed Fund Rate memang akan direspon beragam oleh negara lain, termasuk berpengaruh pada bunga utang. Meski begitu, dia meyakini tak sampai menekan kondisi utang luar negeri pemerintah. Pasalnya, bunga bond tersebut, lebih terpengaruh oleh suku bunga acuan Bank Indonesia (BI 7-Day Repo Rate).

Kemarin, Bank Indonesia kembali menahan suku bunga acuan (BI 7-Day Repo Rate) di level 4,75 persen. Padahal, Rabu lalu Gubernur The Fed Janet Yellen mengumumkan kenaikan Fed Fund Rate sebesar 0,25 persen. Setelah pengumuman tersebut, bursa saham dunia bergairah dan mayoritas mata uang dunia juga menguat atas dolar Amerika Serikat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengapresiasi langkah Bank Indonesia. Kata Darmin, BI sudah memiliki hitungan matang, yang mengindikasikan kondisi makro ekonomi Indonesia stabil.

"(BI menahan suku bunga?) Enggak masalah kan. Semuanya kan itung-itungannya ada. (Jadi kondisi makroprudensialnya bagus?) Ya. (Dampak ke depannya?) Ya baik-baik saja. (Pasar tak terpengaruh The Fed?) Enggak," kata Darmin di kantornya, Jumat (17/03/17).

Darmin mengatakan, BI memiliki perhitungan yang matang sebelum memutuskan menahan suku bunga. Kata dia, hal yang diperhatikan itu termasuk berbagai risiko global, seperti arah kebijakan ekonomi dan perdagangan AS, serta dampak kelanjutan kenaikan Fed Fund Rate, dan geopolitik Eropa. Selain itu, BI juga mewaspadai risiko domestik, yakni dampak penyesuaian harga yang diatur pemerintah (administered prices) terhadap inflasi.

Darmin berujar, kenaikan Fed Fund Rate justru direspon positif oleh pasar Indonesia. Kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 1,58 persen ke level 5.518, sedangkan rupiah menguat 0,13 persen menjadi Rp 13.346 per dolar AS. Adapun pagi ini, IHSG juga kembali dibuka menguat 21,58 poin atau 0,39 persen menjadi 5.539.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.