KBR, Jakarta- Bank Indonesia  tak khawatir utang luar negeri swasta bakal membengkak meski ada potensi kenaikan bunga utang, karena mengikuti bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (Fed Fund Rate) yang naik. Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, sejak tiga tahun lalu, lembaganya telah menerbitkan aturan tentang prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan utang luar negeri korporasi nonbank.

Mirza mengklaim, sampai saat ini utang luar negeri swasta masih sangat terkendali.

"Utang luar negeri swasta, sejak Bank Indonesia menerbitkan aturan kehati-hatian utang luar negeri pada akhir 2014, itu utang luar negeri swasta yang tadinya mencapai USD 165 miliar di akhir 2014, sudah turun. Jadi utang swasta bisa dibilang terkendali. Itu upaya dalam rangka kita menjaga kehati-hatian supaya swasta kalau berutang dari luar negeri harus hati-hati, dan kreditur luar negeri juga harus tahu aturan credit rating, yaitu BB-," kata Mirza di kantornya, Jumat (17/03/17).

Mirza mengatakan, kenaikan Fed Fund Rate itu memang akan mempengaruhi bunga kredit lembaga keuangan di luar negeri. Namun, BI tetap tak khawatir karena saat ini utang luar negeri swasta hanya sebesar USD 159 miliar, atau turun dari tahun 2014 yang mencapai USD 165 miliar.

Mirza berkata, penurunan ulang luar negeri swasta itu utamanya karena ketentuan BI yang mewajibkan perusahaan swasta harus memiliki peringkat utang atau credit rating minimum BB- dari lembaga pemeringkat, baik dari dalam maupun dari luar negeri, agar mereka dapat melakukan transaksi lindung nilai.

Mirza berujar, ketentuan itu memang telah berlangsung sejak 1 Januari 2015. Namun, tahun ini ada tambahan aturan tentang kewajiban transaksi lindung nilai atau hedging dengan perbankan dalam negeri. Kata Mirza, ketentuan baru itu akan membuat rasio lindung nilai untuk perusahaan yang memiliki utang luar negeri dalam valuta asing atau valas, diterapkan sebesar 25 persen, baik untuk kewajiban valas dengan jangka waktu 0-3 bulan maupun 3-6 bulan.

Respon Pasar

Bank Indonesia menyatakan tak khawatir dengan rencana bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), yang akan menaikkan bunganya atau Fed Fund Rate hingga tiga kali tahun ini. Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, kondisi makro ekonomi Indonesia dalam kondisi baik dan stabil. Selain itu, kata dia, pasar Indonesia juga ternyata sudah siap dengan kenaikan Fed Fund Rate, seperti Rabu lalu, hingga merespon positif.

"The Fed itu sudah mengomunikasikan, jadi pada waktu dari awal Maret atau akhir Februari itu sudah terbentuk proses adjustment di pasar untuk menangkap pesan dari The Fed bahwa naiknya tiga kali. Komunikasi The Fed itu baik, sehingga waktu kemarin naik, tidak terjadi gejolak di pasar. Malah justru kemarin rupiah menguat. Yang penting komunikasi, kalau komunikasi ter-deliver dengan baik, dan pasar mengerti, walaupun naiknya tiga kali, ya enggak apa-apa. Enggak harus kita khawatir juga," kata Mirza.

Mirza mengatakan, sejak tahun lalu, memang The Fed sudah mewacanakan kenaikan Fed Fund Rate hingga dua kali. Namun, pada awal tahun ini, rencana kenaikannya berubah hingga tiga kali. Kata Mirza, kabar kenaikan Fed Fund Rate itu, membuat pasar langsung bersiap sejak jauh hari. Kini, kata Mirza, saat The Fed benar-benar menaikkan suku bunganya, tak ada gejolak di pasar Indonesia.

Mirza berujar, kondisi makro ekonomi yang baik, justru membuat kenaikan Fed Fund Rate direspon positif oleh pasar. Buktinya, dengan rupiah yang menguat 0,13 persen menjadi Rp 13.346 per dolar AS.

Kini, kata Mirza, masih ada dua kali rencana kenaikan Fed Fund Rate lagi. Meski begitu, kata dia, BI tak mengkhawatirkannya karena kondisi ekonomi dan pasar yang stabil. Namun, kata Mirza, lembaganya akan tetap mewaspadai berbagai global, seperti arah kebijakan ekonomi dan perdagangan AS, serta dampak kelanjutan kenaikan Fed Fund Rate, dan geopolitik Eropa. Selain itu, BI juga mewaspadai risiko domestik, yakni dampak penyesuaian harga yang diatur pemerintah (administered prices) terhadap inflasi.

Kamis lalu hasil Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan kembali menahan suku bunga acuan (BI 7-Day Repo Rate) di level 4,75 persen. Padahal, Rabu sebelumnya Gubernur The Fed Janet Yellen mengumumkan kenaikan Fed Fund Rate sebesar 0,25 persen. 


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!