Dipercepat, KLHS Kendeng Tahap I Rampung Akhir Bulan Ini

KLHS akan dibuat dua tahap, dimana tahap pertama mengenai CAT Watuputih akan diselesaikan akhir Maret, dan tahap kedua yang merupakan kajian keseluruhan diselesaikan April mendatang.

Senin, 20 Mar 2017 23:24 WIB

Dirjen Planologi dan Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup, Prof San Afri Awang. (Foto: ppid.menlhk.go.id)


KBR, Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memastikan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Pegunungan Kendeng, Rembang Jawa Tengah bakal rampung akhir Maret ini.

Dirjen Planologi dan Tata Ruang dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, San Afri Awang mengatakan dalam waktu 10 hari ke depan, pihaknya akan menyimpulkan status Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih di Pegunungan Kendeng, yang merupakan areal penambangan PT Semen Indonesia.

KLHS akan dibuat dua tahap, dimana tahap pertama mengenai CAT Watuputih akan diselesaikan akhir Maret, dan tahap kedua yang merupakan kajian keseluruhan diselesaikan April mendatang.

San Afri Awang yang juga merupakan Ketua Tim Penyusun KLHS mengatakan, timnya tidak akan menggunakan hasil kajian dari Badan Geologi ESDM, karena ESDM masih membutuhkan waktu lama untuk merampungkan kajiannya.

"Jadi yang tahap pertamanya, Insyaallah kita selesaikan akhir Maret ini. Tahap kedua, April untuk seluruhnya. (Jadi KLHS Rembang sudah selesai?) Sekarang belum. (Apa menunggu kajian Badan Geologi ESDM?) Enggak, itu nanti. Itu lama studinya. Enggak. Kita pakai indikator-indikator saja, yang Insyaallah indikatornya mengarah pada itu. Jadi kita ini kan pakar semua yang ngomong, dengan keahlian mereka. Masak kita nggak percaya dengan pakar," kata San Afri di KSP, Senin (20/3/2017).

Baca juga:


San Afri menambahkan, tim mengandalkan kajian para pakar. Namun, ia menolak memberikan kesimpulan sementara tentang karst di Watuputih. Ia menjamin independensi para pakar yang terlibat dalam penyusunan KLHS.

"Belum bisa (disimpulkan), justru seminggu ini paling krusial, karena yang finishing touch-nya keputusan dari independensi pakar. Kita hormati mereka," tambah San Afri.

Menurutnya, tim penyusun KLHS memanfaatkan seluruh data yang dimiliki, termasuk data Amdal dari PT Semen Indonesia dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. San Afri mengaku telah memiliki data-data tersebut.

"Darimana kita ambil datanya? Dari tim para pakar. (Dari PT Semen dan Pemda?) Ada. Kita pakai data-data Amdalnya," tutur dia.

Untuk KLHS Pegunungan Kendeng, KLHK berjanji akan menyelesaikannya sesuai target awal, yakni April 2017.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.