Kapal pesiar Caledonian Sky yang menghantam terumbu karang Raja Ampat. (Foto: The Carlisle Kid/Creative Commons)


KBR, Jakarta - Kapal pesiar Caledonian Sky berbendera Bahama menerabas gugusan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat pada 3 Maret lalu. Kerusakan diduga karena terjangan lunas atau dasar kapal yang panjangnya 90 meter dalam kondisi air laut surut atau karena terjangan jangkar kapal.

Kerusakan di salah satu terumbu karang terbaik dunia itu ternyata tidak main-main. Kawasan yang terdampak ternyata tidak hanya 1,600 meter persegi seperti diberitakan media-media sebelumnya, namun lebih dari 13,500 meter persegi atau 1,3 hektar.

Kepala Pusat Penelitian Sumber Daya Laut (PPSDL) Universitas Papua, Ricardo Tapilatu mengatakan kerusakan yang ditimbulkan pada gugusan terumbu karang itu tidak hanya berdampak pada habitat biota di dalamnya, tapi juga membutuhkan biaya besar untuk pemulihan.

Ricardo mengatakan pemulihan terumbu karang memang bisa dilakukan secara alamiah, namun butuh waktu sangat lama. Sedangkan untuk terumbu karang jenis tertentu, membutukan lima hingga 10 tahun dengan biaya antara Rp140 miliar hingga Rp211 miliar.

Ricardo mengatakan dari penelitian yang dilakukan PPSDL, terdapat kerusakan seperti patahan terumbu dari coral bleaching (terumbu karang yang mengalami kerusakan baru, perubahan warna dari cokelat menjadi keputihan) serta koral masif di tiga stasiun daerah kerusakan. Total ada delapan jenis karang yang rusak.

"Hasil ukur keliling daerah terdampak seluas 13.500 meter persegi (bukan 1.600 meter persegi seperti yang diberitakan media-media sebelumnya). Rusaknya karang ini membuat simbiosis dengan ikan tak bisa terjadi di lokasi tersebut, mereka harus berpindah dari daerah sekitar itu, dan perpindahan ini ada pengaruhnya dalam ketersediaan pangan," kata Ricardo dalam acara KBR Pagi, Selasa (14/3/2017).

Ricardo Tapilatu merekomendasikan pembuatan mooring buoy (alat tambat apung) untuk menyelamatkan terumbu karang dari terjangan jangkar kapal. Apalagi hampir semua dasar perairan di Raja Ampat tertutup terumbu karang.

Mooring buoy merupakan alat yang penting untuk menunjukkan lokasi menjatuhkan jangkar. Mooring buoy biasanya berukuran bulat, berwarna oranye atau abu abu. Di sejumlah tempat, mooring buoy dianggap efektif menghindarkan terumbu karang dari hantaman jangkar yang dijatuhkan oleh kapal-kapal besar atau karena terjangan lunas kapal di saat laut surut.

"Rekomendasi lainnya adalah membentuk jalur pelayaran dan regulasinya, supaya cost wisata yang besar tidak masuk ke selat sempit," tambah Ricardo.

Tiga kementerian, yaitu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Maritim), serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) saat ini telah mengirimkan tim ke Raja Ampat untuk melakukan investigasi.

Ini bukan kali pertama kapal pesiar Caledonian Sky masuk ke Raja Ampat. Kepala Badan Layanan Unit Daerah (BLUD) Perairan Kabupaten Raja Ampat, Adrian Yusuf mengatakan kapal tersebut sudah lima kali masuk ke kawasan tersebut. Adrian Yusuf mengatakan akan melakukan investigasi dan berkoordinasi dengan Kemenko Maritim membentuk tim untuk membackup daerah.

"Nanti tim Gakum (penegak hukum) akan melihat prosedur hukumnya, yang bisa kita bawa ke ranah pengadilan agar punya persiapan. Selain itu, ke depannya alur pelayaran kapal-kapal wisata juga akan diatur," ujarnya.

Baca: Spesies Hiu Berjalan di Indonesia Terancam Punah   

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!