Cuaca Buruk, Nelayan Tuna Cilacap 2 Tahun Paceklik

"Dua tahun ini paceklik. Habis ini mungkin, mungkin moga-moga ada ikan. Paceklik karena musim hujan. Cilacap itu kalau hujan kan hasilnya jelek."

Rabu, 15 Mar 2017 10:30 WIB

Bongkar ikan tuna di Pelabuhan Cilacap, Jateng. (Foto: KBR/M. Ridlo)


KBR, Cilacap– Nelayan tuna dan cakalang di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah hampir dua tahun mengalami paceklik panjang akibat cuaca buruk yang nyaris terjadi sepanjang musim akhir 2015 hingga awal 2017 ini.  Pengurus Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Dermaga III Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC) Ruliyanto mengatakan saat ini tak setiap hari ada kapal penangkap tuna yang melakukan bongkar muat di Dermaga III. Pasalnya, kata dia, banyak perahu yang libur melaut. Para pemilik kapal takut merugi jika tetap melaut dalam kondisi cuaca buruk.
 
Dalam kondisi normal, kata Ruli, biasanya satu kapal denggan bobot 30 gross ton (GT) bisa mendapat lima sampai enam ton tuna dan atau cakalang. Namun, dalam situasi tak menentu seperti ini, satu kapal hanya mendapat maksimal empat ton.
 
Selain itu, cuaca buruk juga menyebabkan waktu melaut yang semestinya bisa dilakukan dalam dua hingga tiga bulan terpaksa dilakukan hingga empat enam bulan karena minimnya hasil tangkapan. Dia mencontohkan, hari ini di Pelabuhan III hanya ada dua kapal longline yang berlabuh. Dari kedua kapal tersebut, hanya mendapat sekira 8 ton tuna.

“Tadi dua kapal sekitar 8 ton. Perhari, tapi kadang ke sananya kan kosong. Operasinya kan enam bulan kalau tuna. Kalau cakalang satu bulan. Dua tahun ini paceklik. Habis ini mungkin, mungkin moga-moga ada ikan. Paceklik karena musim hujan. Cilacap itu kalau hujan kan hasilnya jelek. Nggak tentu. Kalau pas musim itu empat hingga enam bulan,” kata Ruliyanto.
 
Paceklik rupanya tak hanya dialami nelayan tuna. Nelayan perahu kecil pun mengalami nasib serupa. Salah satu nelayan yang ditemui KBR di Dermaga III, Suparno mengatakan cuaca buruk menyebabkan hasil tangkapan nelayan turun. Pasalnya, nelayan tak bisa melaut dengan waktu dan jarak normal. Sebab, tiap kali gelombang tinggi datang, mereka harus secepatnya merapat ke pantai.
 
Suparno mengatakan, gelombang tinggi bisanya mulai terjadi pada siang menjelang sore hari. Itu sebab, nelayan perahu kecil hanya berani melaut mulai dini hari hingga siang. Jaraknya pun hanya sekira lima mil laut. Dengan begitu, ketika terjadi cuaca buruk, jarak ke pantai tak terlalu jauh.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Kuasa Hukum: Ada Gangguan di Otak Setnov

  • Beredar Surat Dari Novanto Soal Jabatannya, Fahri Hamzah: Itu Benar
  • Gunung Agung Meletus, Warga Kembali Mengungsi
  • Kasus PT IBU, Kemendag Bantah Aturan HET Beras Jadi Biang Penggerebekan