Pemkab Banyuwangi Klaim Penambangan Tumpang Pitu Ramah Lingkungan

Tidak ada tailing dari proses penambangan emas Tumpang Pitu.

Rabu, 30 Mar 2016 09:50 WIB

Direktur PT Bumi Suksesindo (BSI) Arif Firman (kiri) menerima SK penetapan proyek tambang emas dan mineral di Tumpang Pitu, Banyuwangi sebagai obyek vital nasional, dari ESDM (24/3). Foto: Antara

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Banyuwangi- Pemerintah Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur membantah penambangan emas di Gunung Tumpang Pitu mengancam keselamatan warga sekitar tambang. Pelaksana Tugas Kepala Badan Lingkungan Hidup Banyuwangi Khusnul Hotimah mengatakan, proses penambangan emas yang dilakukan PT BSI ramah lingkungan. "Meski mengunakan sistim penambangan terbuka, tidak ada pembuangan tailing. Sistim teknis pengelolaanya adalah sistim tumpukan atau Heabred," jelasnya, Rabu (30/3/2016).

Khusnul juga menepis kekhawatiran penambangan emas yang dilakukan PT BSI bakal mengancam pertanian warga sekitar tambang karena menyedot banyak air. Kata dia, hal itu tidak akan terjadi sebab PT BSI akan mendaur ulang air dalam proses penambangan.  "Wong punya kita itu airnya seperti teh. Maka air itu bisa digunakan kembali namanya sitim Recycle,” kata Khusnul.

Hal itu sesuai  dokumenan analisis dampak lingkungan (Amdal) yang dimiliki  perusahaan.

Selain itu, perusahaan berkomitmen melakukan penghijauan kembali kawasan Gunung Tumpang pitu pasca kegiatan tambang tanpa menunggu proses penambangan selesai seluruhnya. Dengan begitu kawasan Gunung Tumpang Pitu tetap lestari. 

"Ini tidak seperti Penambangan emas di daerah lainya di Indonesia," ujarnya.

Sebelumnya, Jaringan Masyarakat Tambang (JATAM) menyatakan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pertaruhkan keselamatan warganya demi investasi perusahaan tambang emas PT. Bumi Suksesindo (BSI) di kawasan Gunung Tumpang Pitu.

Manajer Kampanye JATAM Ki Bagus Hadikusumo merujuk pada pernyataan PT BSI yang mengumumkan pemurnian emas akan dilakukan dengan sistem Heap Leaching. Dengan metode itu, kata Ki Bagus, perusahaan akan menggunakan bahan kimia sianida.

"Sianida merupakan bahan kimia yang berbahaya jika terpapar pada lingkungan dan makhluk hidup," ujar Ki Bagus.

JATAM juga menduga PT. BSI akan menggunakan metode Submarine Tailing Dissposal (STD). Metode itu merupakan penempatan limbah tailing di bawah laut, metode ini kata dia, digunakan oleh  PT. Newmont Minahasa Raya (NMR) di Teluk Buyat dan Newmont Nusa Tenggara (NNT) diteluk Senunu Nusa Tenggara Barat. 

Editor: Malika

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Apakah anda lelah dengan rutinitas harian anda? Seperti kuliah atau bekerja,dan belum punya waktu atau budget anda terbatas untuk bersenang-senang? Dufan Jawabannya