Tindak Tegas Gerakan Intoleransi

Sepertinya bagi kelompok ini, siapapun yang berbeda dengan pandangan mereka, wajib dihabisi. Aktifitas apa saja bisa dianggap mengganggu keyakinan mereka, karena itu harus dihentikan atau ditumpas.

Selasa, 13 Feb 2018 05:35 WIB

Bersama-sama membersihkan Gereja St Lidwina pasca serangan teroris

Anggota TNI, Polri dan warga membersihkan gereja pascapenyerangan yang dilakukan oleh seorang pria bersenjata tajam saat ibadah misa di Gereja St. Lidwina, Bedog, Yogyakarta agar kembali dapat digunakan untuk peribadatan. (Foto: Antara/Andreas Fitri Atmok

Presiden Joko Widodo memerintahkan Kepala Kepolisian Tito Karnavian menuntaskan proses hukum terhadap pelaku kekerasan di Gereja  Santa Lidwina,Yogyakarta. Jokowi mengatakan tidak akan memberikan tempat bagi orang-orang untuk melakukan, mengembangkan intoleransi di negeri ini.  Dia menegaskan negara menjamin kebebasan warganya beragama dan berkeyakinan.

Apa yang disampaikan presiden itu semestinya diteruskan Kapolri ke personilnya di daerah. Polisi yang di bawah inilah yang kerap berhadapan langsung dengan orang atau massa yang intoleran. Bahkan bisa jadi target atau sasaran dari aksi kekerasan seperti anggota polisi yang kena sabet pelaku penyerangan jemaat gereja di Yogyakarta.

Aparatur polisi di bawah itu perlu diberi sokongan untuk tak segan menindak tegas  setiap upaya menyebarkan intoleransi. Hanya tindakan tegas yang bisa membuat orang-orang yang membenci liyan itu menghentikan aksinya. Menggandeng atau merangkul, hanya membuat mereka makin semena-mena memaksakan kebenaran versinya.

Sepertinya bagi kelompok ini, siapapun yang berbeda dengan pandangan mereka, wajib dihabisi. Aktifitas apa saja bisa dianggap mengganggu keyakinan mereka, karena itu harus dihentikan atau ditumpas. Peristiwanya sudah kerap terjadi, pun korbannya juga sudah berjatuhan.

Pesan orang nomor satu di negeri itu sangat jelas. Tidak ada toleransi bagi mereka yang intoleran. Tak perlu ragu untuk menyatakan penolakan pada pandangan intoleran. Sebagaimana para pendiri negara ini dulu saling menenggang rasa menyingkirkan perbedaan demi Indonesia yang bhinneka. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.