Terpidana Mati Narkoba Kendalikan Peredaran Sabu dari Lapas, Kemenkumham Berdalih

"Petugas kami tak bisa membaca pergerakan mereka. Sedangkan pergerakan kami selalu dibaca mereka. Jadi ketika dilakukan razia, termasuk handphone, yang dimiliki narapidana bisa beralih ke yang lain."

Jumat, 09 Feb 2018 18:46 WIB

Ilustrasi. Barang bukti sabu-sabu yang disita BNN dan Ditjen Bea Cukai dari tiga kasus penyelundupan narkotika di Aceh dan Sumatera, dalam ekspose di Jakarta, Rabu (7/2/2018). (Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Medan - Vonis hukuman pidana mati rupanya tidak membuat kapok Togiman alias Toge. Padahal ia sudah divonis hukuman mati dua kali.

Meski sudah dipenjara di Lapas Kelas IA Tanjung Gusta, Medan, Toge kembali terlibat peredaran narkotika dari dalam penjara. Kali ini ia mengedarkan sabu seberat 87,7 kilogram melalui jaringan Aceh-Medan.

Kasus itu mendapat tanggapan dari Kepala Divisi Pemasyarakatan, Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Utara Hermawan Yunianto.

"Petugas kami telah melakukan pengawasan yang maksimal terhadap ribuan narapidana di Lapas Klas IA Tanjung Gusta Medan, termasuk Toge. Tetap ada penggeledahan, laporan juga tetap jalan setiap minggu," klaim Hermawan, Jumat (9/2/2018). 

Hermawan berdalih meski petugas Lapas kerap melakukan pengawasan, namun narapidana sangat lihai melihat pergerakan petugas saat ada razia di setiap blok tahanan.

"Petugas kami tak bisa membaca pergerakan mereka. Sedangkan pergerakan kami selalu dibaca mereka. Jadi ketika dilakukan razia, termasuk handphone, yang dimiliki narapidana bisa beralih kepada yang lain," kata Hermawan.

Baca juga:

Togiman alias Toge kembali terlibat dalam kasus narkotika terbaru di Aceh dan Medan yang berhasil diungkap Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Ditjen Bea Cukai. 

Dalam operasi perburuan sekitar 10 hari, petugas menyita 110 kilogram sabu dan 18.300 butir ekstasi. Toge diduga memesan sabu dari luar negeri. 

Kepala BNN Budi Waseso menyebut Toge memiliki telepon genggam, padahal itu merupakan barang terlarang di dalam lapas. Ia menduga ada kongkalikong antara pelaku dengan petugas Lapas.

"Kami sampaikan 50 persen narkoba itu dikendalikan dari dalam Lapas. Itu fakta, bukan omong kosong. Bahkan 90 persen kasus yang kami ungkap selama 2017 itu melibatkan Lapas," kata Budi Waseso, Rabu (7/2/2018) lalu. 

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Indonesia masih menghadapi masalah jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Pertambahan jumlah penduduk tidak seimbang dengan pertumbuhan kesempatan kerja.