Penyerangan Gereja di Yogya, Pelaku Serang yang Dianggap Kafir

"yang bersangkutan terkena paham radikal yang prokekerasan,"

Selasa, 13 Feb 2018 10:28 WIB

Gereja Lidwina pasca penyerangan. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Polisi enggan berspekulasi mengenai keterkaitan di gereja Santa Lidwina, Bedok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta,  dengan sejumlah penyerangan terhadap tokoh agama dalam beberapa pekan ini.  Kepala Kepolisian Republik Indonesia Tito Karnavian beralasan  hal tersebut bisa meresahkan masyarakat.

Dia menegaskan, kepolisian tengah mendalami kasus tersebut dengan mencari latar belakang pelaku bernama Suliono itu. 

"Saya tidak ingin, rekan-rekan, kita berkembang pada spekulasi-spekulasi yang tidak jelas. Dihubung-hubungkan, dikait-kaitkan. Saya sampaikan bahwa kepolisian sudah melakukan langkah-langkah penindakan. Polri tidak ingin berspekulasi tentang apa mungkin ada motif desain, atau apapun juga," kata Tito di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (12/2).

Polri, dia melanjutkan, sudah mengirimkan Detasemen Khusus 88 dan intelejen dari Mabes Polri, untuk menangani kasus tersebut. Informasi yang ada sementara, Tito mengatakan, Suliono berasal dari Banyuwangi, pernah di Sulawesi Tengah, Poso, dan Magelang.

"Dan ada indikasi yang bersangkutan terkena paham radikal yang prokekerasan," kata Tito.

Tito mengklaim, Suliono pernah berupaya membuat paspor ke Suriah, tapi tidak berhasil. Dia juga menyebut pelaku penyerangan gereja di Yogyakarta itu memang sosok yang radikal.

"Akhirnya dia melakukan amaliah untuk menyerang 'orang kafir' versi dia," kata Tito.

Namun dalam menjalankan aksinya, Tito belum mengetahui polanya. Polisi masih mendalami kemungkinan Suliono tidak bergerak sendiri saat aksi brutalnya.

Tito mengatakan, kasus penyerangan gereja di Yogyakarta itu bersifat spontan, sebagai fakta hukum. Sampai saat ini, polisi belum menemukan ada hubungan antara kasus itu dengan kasus penyerangan terhadap tokoh agama lainnya.

Karena itu, dia meminta masyarakat tetap tenang. Tito berjanji bisa menangani kasus tersebut dan menangkap para pelaku. Dia mengklaim sudah memerintahkan bawahannya untuk memperkuat pengamanan tempat-tempat ibadah.

"Jangan juga mau isu ini kemudian dimanfaatkan untuk mengadu domba antarelemen masyarakat kita," kata dia. "Percayakan kepada polisi. Percayakan kepada pemerintah. Saya juga sudah kontak Pak Panglima TNI untuk menurunkan tim intelijen untuk bekerjasama."


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wakapolri Tegaskan Tak Ada Pengamanan Khusus terkait Rencana Kembalinya Rizieq

  • JK Bantah Asian Games 2018 Kekurangan Dana
  • 5 Kecamatan di Karo Gelap Gulita Akibat Erupsi Sinabung
  • Netanyahu Kecam Pernyataan PM Polandia Soal Dalang Holocaust

Tidak lama lagi kita akan merayakan pesta rakyat yang diadakan setiap 5 tahun sekali. Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden yang jatuh pada tahun 2019.