Pakai Celana Ketat, Puluhan Warga Terjaring WH

"Ada sekitar 40 orang yang terjaring"

Kamis, 08 Feb 2018 13:46 WIB

Razia busana islami Wilayatul Hisbah di kawasan Taman Riyaddhah Lhokseumawe, Kamis (08/02). (Foto : KBR/Erwin J.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Lhokseumawe– Puluhan warga Kota Lhokseumawe terjaring operasi penertiban syariat Islam dikarenakan memakai celana ketat dan pendek. Mereka, ditangkap polisi Wilayatul Hisbah (WH) ketika berkeliaran di kawasan Taman Riyaddhah setempat.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Lhokseumawe, Muhammad Irsyadi menegaskan   terus melakukan upaya penertiban terhadap pelanggar busana tersebut. Kata Dia, kalangan perempuan yang terjaring WH itu terbukti menggunakan celana ketat, sedangkan lelakinya memakai celana pendek.

”Jadi ini merupakan tugas Kita untuk mengawasi terhadap para pengguna jalan yang memakai pakaian ketat, termasuk juga celana pendek bagi kaum pria. Ada sekitar 40 orang yang terjaring selanjutnya yang terjaring ini bagi kaum perempuan Kita serahkan kain sarung, begitu juga dengan lelakinya yang kedapatan celana pendek,” kata Irsyadi kepada KBR.

Ia menambahkan, seluruh warga yang terjaring dalam operasi tersebut dibebaskan setelah membuat pernyataan tertulis tidak melakukan kembali perbuatan yang bertentangan dengan syariat Islam. Bahkan, pelanggar dimaksud juga diberikan kain sarung sebagai alat untuk menutup aurat.

"Dalam pasal 13 ayat 1 qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam nomor 11 tahun 2002 tentang pelaksanaan syariat Islam tertulis  setiap orang Islam wajib berbusana islami. Artinya, siapapun yang memakai pakaian ketat atau yang tak menutup aurat melanggar qanun tersebut,” paparnya.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.