KPPU Sarankan Pemerintah Bangun Pasar Induk Baru di Sentra-sentra Produksi Beras

"Supaya referensi kita terkait dengan pasokan beras dan perkembangan harga itu bisa bervariasi. Tidak hanya tergantung pada pasar induk beras Cipinang," kata Ketua KPPU Syarkawi Rauf.

Rabu, 07 Feb 2018 21:00 WIB

Buruh tani memanggul padi saat panen raya di Demak, Jawa Tengah, Jumat (26/1/2018). (Foto: ANTARA/Aji Styawan)

KBR, Pati – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mendorong pemerintah pusat membangun pasar induk baru di sentra-sentra produksi beras. 

KPPU menilai perlu ada pasar induk beras di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan hingga Sumatera.

Ketua KPPU Syarkawi Rauf mengatakan pembangunan pasar induk beras di berbagai tempat dimaksudkan agar harga beras tidak dikendalikan di satu tempat saja, dan mendorong agar ada referensi baru harga beras di luar Pasar Induk Beras di Cipinang, Jakarta.

Syarkawi mengatakan harga beras nasional selama ini mengacu pada harga beras di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur. Hal itu menimbulkan asumsi jika di Pasar Induk Cipinang kekurangan pasokan beras, maka diasumsikan seluruh Indonesia kekurangan beras. 

"Ke depan yang harus kita bangun adalah Pasar Induk Beras yang baru. Bukan di Cipinang, tapi di sentra-sentra produksi kita. Di Jawa Timur perlu, di Jawa Tengah perlu, di Sulawesi Selatan perlu, termasuk di Sumatera perlu. Supaya referensi kita terkait dengan pasokan beras dan perkembangan harga itu bisa bervariasi. Tidak hanya tergantung pada pasar induk beras Cipinang," kata Syarkawi di Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo, Pati, Jawa Tengah, Rabu (7/2/2018).

Syarkawi Rauf mendampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melakukan panen raya di Pati. 

Baca juga:

Syarkawi mengatakan masalah beras di Indonesia, salah satunya disebabkan karena manajemen distribusi yang tidak dikelola baik. Selama ini, kata Syarkawi, di Indonesia hanya punya satu Pasar Induk Beras, yaitu di Cipinang, yang menjadi barometer seluruh Indonesia.

Syarkawi Rauf mensinyalir perkembangan harga beras secara nasional hanya dikendalikan segelintir orang sehingga terjadi monopoli usaha yang tidak adil. Karena itu harus ada referensi baru harga beras di luar Pasar Induk Beras Cipinang.

"Kita belum melihat siapa orangnya. Tetapi kalau harga di petani sudah mulai turun tapi harga di enduser turunnya tidak signifikan, kita akan melihat penyebabnya apa. Kita menyimpulkan ini ada permainan, tapi yang kita harapkan adalah, searah harga padi di petani turun, paling tidak dalam dua minggu harga di enduser juga mestinya turun," kata Syarkawi. 

Ketua KPPU Syarkawi Rauf memastikan KPU bersama Kementerian Pertanian, Mabes Polri dan Satgas Pangan akan mengawal agar produksi padi maupun beras yang ada di petani bisa masuk dalam jumlah dan harga yang stabil ke konsumen. 

Dengan begitu diharapkan petani diuntungkan, karena harga pembelian tinggi. Selain itu konsumen juga diuntungkan karena harga pembelian di hilir juga tinggi.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Polda Minta Novel Kooperatif

  • Novel Tunggu Masukan KPK Soal Pemeriksaan Ulang
  • Polda Jatim Tutup 400 Akun Anonim
  • Kalah, Arsenal Tetap Melaju Ke Babak 16 Besar Liga Europa

Garut adalah salah satu daerah sentra produksi jeruk di Jawa Barat. Jeruk Garut telah ditetapkan sebagai Jeruk Varietas Unggul Nasional dengan nama Jeruk Keprok Garut.