Kasus Teror Novel, Jokowi Tunggu Polri Menyerah

"Sampai saat ini akan kita kejar terus Polri. Sudah sampaikan. Kalau Polri sudah gini, baru kita ambil step yang lain," kata Jokowi sambil mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat menyerah.

Selasa, 20 Feb 2018 11:09 WIB

Presiden Joko Widodo di Jakarta, Selasa (6/2/2018). (Foto: ANTARA/Puspa Perwitasari)

KBR, Jakarta - Presiden Joko Widodo mengatakan tidak akan membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk mengusut kasus teror terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, selama kepolisian masih bekerja. 

Dia mengatakan masih terus mendorong dan mengikuti perkembangan penuntasan kasus ini di Kepolisian. Jokowi menekankan pelaku penyerangan Novel harus ditangkap.

"Sampai saat ini akan kita kejar terus Polri. Sudah sampaikan. Kalau Polri sudah gini, baru kita ambil step yang lain," kata Jokowi sambil mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat menyerah, di Istana Negara, Selasa (20/2/2018).

Teror penyiraman air keras ke muka Novel Baswedan terjadi pada Selasa, 11 April 2017, atau 10 bulan lalu. Hingga kini polisi belum bisa mengungkap pelaku maupun dalang teror itu. 

Kepolisian sudah memeriksa sejumlah terduga pelaku dan menyebarkan sketsa wajah, namun mereka mengklaim belum ada informasi yang cocok. 

Di lain pihak, desakan agar pemerintah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) independen terus menguat. Keluarga maupun kalangan aktivis menginginkan TGPF dibentuk karena mereka menyangsikan kemauan polisi menuntaskan kasus ini. 

Novel sudah hampir selesai menjalani pengobatannya di Singapura. Ia direncanakan akan pulang ke Indonesia, Kamis (22/2/2018). Kepulangan ini disambut baik oleh Jokowi. Dia berharap Novel kembali bisa bekerja di KPK.

"Kita bersyukur. Alhamdulilah Pak Novel sudah sembuh, sudah kembali ke tanah air. Saya kira kalau Pak Novel bisa bekerja ke KPK, patut kita syukuri," kata Jokowi.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi
  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

Direktorat Cyber Polri Dalami Tindak Pidana Pencurian Data Facebook

  • Perbaikan Jembatan Widang Tunggu Proses Evakuasi
  • 18 Ribu Pemilih di Banyuwangi Tidak Memenuhi Syarat
  • Milan Perlu Perbaiki Mental

Diabetes kerap menjadi masalah yang mengkhawatirkan di Indonesia. Penyakit yang satu ini berkaitan erat dengan pola gaya hidup sehat, mulai dari makanan hingga aktivitas fisik.