Jelang Imlek, Permintaan Ikan Dewa Meningkat Tajam

"Kita pakai harga biasa. Kalau yang untuk ukuran konsumsi yang bobotnya satu kilogram Rp 1.000.000 per kilogram,"

Kamis, 15 Feb 2018 14:27 WIB

Ilustrasi: Replika ikan dewa atau tambra (foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Banyumas– Menjelang perayaan perayaan Tahun Baru Imlek 2569 Kongzili, permintaan ikan dewa atau tambra meningkat tajam.  Pemilik pembiakan dan pembesaran ikan dewa di Cilongok Kabupaten Banyumas, Bing Urip Hartoyo mengatakan, permintaan ikan dewa naik sejak dua pekan lalu. Selain untuk memenuhi kebutuhan lokal, ia mengaku mengirimkannya ke berbagai daerah, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Sumedang, dan Cianjur.
 
Kata dia, permintaan tertinggi justru berasal dari luar daerah. Sedang  di Banyumas, sejak jauh  hari, masyarakat keturunan Tionghoa telah memesan ikan tersebut.

Meski permintaan meningkat, namun harganya tetap stabil. Ikan dewa berukuran satu kilogram per ekor adalah Rp 1.000.000 per kilogram. Adapun harga ikan dewa ukuran di atas dua kilogram adalah Rp 1,5 juta per kilogram.

Sejauh ini, ia sudah mengirimkan sekitar satu kwintal ikan dewa konsumsi menjelang perayaan Imlek ini. Kamis ini, pengiriman akan dilakukan ke Cianjur, Jawa Barat, sebanyak 20 kilogram ikan dewa. 

“Ya meningkat. Tetapi memang, permintaan paling banyak yang keluar kota, malahan. Nggak naik. Kita pakai harga biasa. Kalau yang untuk ukuran konsumsi yang bobotnya satu kilogram Rp 1.000.000 per kilogram, kalau yang bobotnya di atas dua kilogram harganya Rp 1,5 juta per kilogram. Masing-masing memiliki keyakinan tertentu. Kalau di masyarakat Tionghoa itu kan untuk acara-acara mereka,” jelas Bing Urip Hartoyo, saat dihubungi, Kamis (15/2/2018).

Bing Urip Hartoyo menerangkan, ikan dewa bagi masyarakat keturunan Tionghoa diyakini sebagai ikan pembawa keberuntungan. Mereka menghidangkan ikan dewa dalam hari-hari besar, acara keluarga, maupun ritual keagamaan. Ini termasuk tahun baru Imlek.
 
Dia mengungkapkan, keruhnya aliran Sungai Prukut berdampak pada pasokan ikan dewa dari Banyumas. Pasalnya, Sungai Prukut merupakan suplai utama air bersih untuk kolam pembesaran dan pembiakan di sentra ikan dewa dan plasma. Namun, ia menjamin kebutuhan ikan dewa tahun ini masih tercukupi.
 
Ia justru lebih khawatir pasokan ikan dewa untuk tahun depan. Pasalnya, sejak akhir 2016 lalu, pusat pembiakan bibit ikan dewa terganggu keruhnya Sungai Prukut. Antara 2016-2018 ini, pembiakan berhenti dua kali, dengan durasi total mencapai 10 bulan. Sebab itu, suplai bibit untuk plasma dan petambak ikan dewa lain di luar daerah terganggu.

Dia memperkirakan, dalam waktu dua tahun ke depan, persediaan ikan dewa di Banyumas dan beberapa sentra lainnya akan langka. Sebab, pembiakan milik swasta di Indonesia masih amat sedikit. Salah satu yang terbesar adalah yang berada di Cilongok, Banyumas. Benih ikan dewa dari Banyumas dikirim ke berbagai daerah di Jawa Tengah, seperti Cianjur dan Sumedang Jawa Barat, hingga Medan.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.