Homestay Menjamur, Usaha Perhotelan di Banyuwangi Terancam Gulung Tikar

Ada homestay yang memberikan harga Rp50 ribu per hari, sehingga wisatawan lebih memilih homestay dibandingkan hotel.

Kamis, 08 Feb 2018 14:42 WIB

Menteri Pariwisata Arief Yahya di salah satu homestay di Banyuwangi, Jawa Timur. (Foto: Humas banyuwangikab.go.id/Publik Domain)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Banyuwangi - Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banyuwangi Jawa Timur mengkhawatirkan nasib usaha mereka, karena menjamurnya usaha homestay (penginapan rumah sewa) di Banyuwangi.

Ketua PHRI Banyuwangi Zainal Muttaqin mengatakan tingkat okupansi hotel selama setahun di Banyuwangi turun hingga 30 persen. Banyak wisatawan di Banyuwangi memilih penginapan ala homestay.

Hal ini disebabkan tarif homestay kepada wisatawan jauh lebih murah dibanding hotel. Bahkan, Zainal Muttaqin, ada homestay yang memberikan harga Rp50 ribu per hari, sehingga wisatawan lebih memilih homestay dibandingkan hotel.

Zainal mengatakan jika kondisi seperti itu terus berlangung, tidak menutup kemungkinan banyak usaha perhotelan di Banyuwangi bangkrut dan gulung tikar. Padahal sektor perhotelan  selama ini telah menjadi penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar di Banyuwangi.

Zainal juga menyoroti Program Seribu Homestay yang yang dirancang pemerintah pusat.

"Harapan kami ke depan, agar pemerintah daerah bisa memikirkan bagaimana target PAD itu tercapai, dengan cara tingkat hunian hotel juga harus bisa meningkat dengan adanya even-even. Saya kira di sini program dari kementerian yaitu Program Seribu Homestay di Banyuwangi masih terealisasi kurang lebih 400 sampai 600 homestay. Itu juga berpengaruh kepada kami, karena dia bermain di segmen hotel," kata Zainal Muttaqin di Banyuwangi, Rabu (8/2/2018).

Ketua PHRI Banyuwangi Zainal Muttaqin menilai sumbangsih homestay di Banyuwangi kepada daerah selama ini masih belum jelas. PHRI Banyuwangi meminta pemerintah Banyuwangi besikap adil dan tidak diskriminatif.

Menanggapi hal itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi Muhammad Yanuar Bramuda mengatakan akan mengkaji kembali pendirian homestay tersebut. 

Ia berharap baik pengusaha homestay maupun hotel sama–sama diuntungkan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan ke Banyuwangi selama ini. 

Di Banyuwangi, jumlah homestay tumbuh pesat dalam tiga tahun terakhir. Data Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi menyebutkan pada awal 2017 terdapat 200 homestay di kabupaten itu. Jumlah itu diperkirakan terus bertambah. 

Homestay merupakan tempat penginapan yang diusahakan oleh masyarakat dengan menyewakan satu rumah secara utuh atau sekadar menyewakan kamar. 

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Tanggal 23 Juli nanti kita akan merayakan Hari Anak Nasional. Peringatan ini diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa masih banyak persoalan yang dihadapi anak Indonesia.