Warga Miangas-Marore di Perbatasan RI-Filipina Alami Krisis Pangan

Kepala Biro Ekonomi Sulawesi Utara, Frangki Manumpil mengakui terjadinya kekurangan pasokan pangan di daerah kepulauan perbatasan itu.

Jumat, 03 Feb 2017 10:23 WIB

Pulau Miangas dan Marore di Sulawesi Utara. (Foto: kemdikbud.go.id)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Manado - Ketersediaan pangan menipis di daerah kepulauan Miangas dan Marore, Provinsi Sulawesi Utara. Wilayah ini merupakan salah satu wilayah terluar Indonesia.

Pulau Miangas (masuk Kabupaten Talaud) maupun Pulau Marore (masuk Kabupaten Sangihe) hanya berjarak sekitar 48 mil dari Filipina, atau lebih dekat ketimbang jarak menuju ibukota Sulawesi Utara di Manado yang mencapai 206 mil laut. Wilayah ini merupakan kawasan khusus perbatasan atau Check Point Border Crossing Area.

Sebagai langkah darurat, pemerintah Provinsi Sulawesi Utara mengirim bantuan satu ton beras ke daerah itu pada Kamis (2/2/2017).

Kepala Biro Ekonomi Sulawesi Utara, Frangki Manumpil mengakui terjadinya kekurangan pasokan pangan di daerah kepulauan perbatasan itu.

Frangki mengatakan kekurangan stok pangan sudah terjadi hampir dua bulan sejak Desember 2016. Hal itu disebabkan pengiriman bahan pangan terhenti akibat cuaca buruk yang mengakibatkan gelombang tinggi laut di daerah itu. Gelombang tinggi itu tidak bisa ditembus kapal muatan maupun kapal penumpang seperti kapal perintis.

"Bupati Kabupaten Kepulauan Talaud sudah menyurat resmi ke Pemerintah Sulawesi Utara, dalam hal ini Gubernur Sulut untuk membantu memfasilitasi (bantuan) bersama Bulog Sulut agar melakukan pengiriman bahan pangan ke daerah kepulauan tersebut," kata Frangki Manumpil, Kamis (2/2/2017).

"Kiriman pangan tersebut akibat sudah keadaan darurat, karena sangat dibutuhkan sekali oleh masyarakat di daerah kepulauan tersebut," tambah Frangki.

Jumlah penduduk di daerah kepulauan Kecamatan Khusus Miangas Kabupaten Talaud sebanyak 678 jiwa, sedangkan di Pulau Kecamatan Khusus Marore Kabupaten Kepulauan Sangihe sebanyak 845 jiwa. Sebagian besar warga berprofesi nelayan.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Demi Kesetaraan, Kemenhub Berkeras Batasi Tarif Taksi Online

  • Kasus Hakim Praperadilan Setnov Segera Masuk Sidang Panel KY
  • Kasus Pribumi, Polri Masih Kaji Laporan terhadap Anies Baswedan
  • Pernikahan Usia Anak di NTB Masih Tinggi