MUI Bogor Larang Hadiri Cap Go Meh, Ini Kata Wali Kota

"Dari tahun-ke tahun MUI kita undang untuk memberikan doa lintas agama. Saya memaknai ini sebagai proses acara kebudayaan yang sudah lama berjalan. "

Rabu, 08 Feb 2017 13:45 WIB

Ilustrasi: Pawai Cap Go Meh di Kota Bogor pada 2014. (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Bogor- Wali Kota Bogor, Jawa Barat Bima Arya Sugiarto menghormati keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat, yang mengimbau umat Islam untuk tidak mengikuti atau menghadiri, pagelaran budaya Cap Go Meh.

Menurut dia, kewajiban ulama untuk mengingatkan umatnya untuk tidak mengikuti perayaan agama orang lain. Namun, kata dia, selama ini ia menganggap pagelaran Cap Go Meh sebagai ajang budaya pemersatu.

"Dari tahun-ke tahun MUI kita undang untuk memberikan doa lintas agama. Saya memaknai ini sebagai proses acara kebudayaan yang sudah lama berjalan. Presiden hadir, gubernur hadir, pemerintah juga hadir, karena ini adalah bagian dari kultur kebudayaan yang sudah cukup lama berjalan di Bogor, dan sebagai ajang pemersatu," katanya saat ditemui di Balai Kota Bogor, Rabu (08/02)

Bima mengatakan, kekhawatiran MUI terkait acara Cap Go Meh adalah, karena takut warga meninggalkan salat. Karena waktu pelaksanaan Cap Go Meh itu  memang dilakukan sepanjang sore hingga malam. MUI pun, kata Bima, meminta waktu pagelaran budaya Cap Go Meh untuk diadakan pagi hari.

"Itu jelas tidak bisa, karena ini kan sudah direncanakan sejak lama. Kalau masalah ibadah, panitia juga sudah berkomitmen untuk menyediakan lokasi ibadah yang strategis," jelasnya.

Kemarin (07/02)  Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor mengeluarkan imbauan, warga muslim di Kota Bogor untuk tidak mengikuti perayaan Cap Go Meh, yang akan dilaksanakan  11 Februari nanti. Ketua MUI Kota Bogor, Adam Ibrahim mengatakan, alasan dikeluarkan imbauan larangan menghadiri Cap Go Meh adalah, perayaan ini kental dengan agama Konghucu.

Dia meminta agar warga muslim di Kota Bogor tidak menghadiri atau mengikuti perayaan yang dilakukan 15 hari setelah Imlek ini.

"Karena itu acara agama Konghucu kan. Cap Go Meh itu acara kebudayaan Konghucu, dan diperuntukan untuk orang-orang Tionghoa. Jadi tidak usahlah umat Islam ikut ramai-ramai," katanya saat dihubungi KBR, Selasa (07/02).

Adam menjelaskan, meski acara itu berbalut kirab budaya. Kegiatan itu tetap kaitannya hanya untuk umat yang beragama Konghucu.

"(Acaranya kan kirab budaya pak?) Iya itu kan hanya dikaitkan saja dengan acara perayaan mereka, tetap saja itu hanya untuk Tionghoa," jelasnya.

Ketika ditanya perihal rutinitas kegiatan Cap Go Meh yang setiap tahun dilaksanakan di Kota Bogor. Adam Ibrahim hanya memastikan jika terjadi kesalahan pada tahun-tahun sebelumnya.

"Tahun-tahun yang lalu kan kita belum melek agama. Tugas kami kan memberikan pencerdaskan kepada umat," kata dia.

Dalam waktu dekat, lanjut Adam Ibrahim, MUI Kota Bogor akan merumuskan untuk membuat surat edaran ke semua warga muslim untuk tidak ikut dalam perayaan ini.

"Sedang kita rumuskan (surat edaran-red)," tegasnya.

Perayaan Cap Go Meh  di Kota Bogor diadakan sejak 15 tahun lalu. Pada  perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor 2015, dihadiri  Presiden Joko Widodo dan juga Menteri Pendidikan saat itu Anies Baswedan.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Demi Kesetaraan, Kemenhub Berkeras Batasi Tarif Taksi Online

  • Kasus Hakim Praperadilan Setnov Segera Masuk Sidang Panel KY
  • Kasus Pribumi, Polri Masih Kaji Laporan terhadap Anies Baswedan
  • Pernikahan Usia Anak di NTB Masih Tinggi