Hentikan Kebencian

Begitulah sepatutnya menjadi manusia yang toleran dan terbuka - menyediakan diri sepenuh hati dan jiwa raga manakala ada kelompok yang menghadapi diskriminasi, apalagi dizalimi.

Rabu, 01 Feb 2017 01:08 WIB

Demonstrasi antidiskriminasi di AS

Para aktivis berunjuk rasa memprotes larangan perjalanan yang diberlakukan Presiden Donald Trump di Portland, Oregon, Amerika Serikat, Minggu (29/1) (foto: Antara)

Keputusan Presiden Amerika Serikat melarang  kehadiran warga dari 7 negara Islam menuai protes. Dengan putusan itu, warga asal  Irak, Iran, Suriah, Libya, Yaman, Sudan, dan Somalia tak mendapat izin masuk atau visa ke Amerika. Bandara sebagai gerbang masuk  dan berbagai tempat lain lantas jadi lokasi aksi warga Amerika yang menolak keputusan kontroversial itu.

Beberapa jam pasca putusan penuh prasangka itu, sebuah masjid di Texas terbakar. Belum diketahui penyebab kebakaran. Spekulasi lantas muncul dan mengaitkan dengan putusan Donald Trump. Warga Amerika yang menolak putusan Trump lantas mengambil inisiatif menggalang dukungan dana untuk pembangunan kembali masjid. Hanya sehari, berhasil terkumpul sumbangan setara lebih 11 miliar Rupiah.

Aksi penolakan dan dukungan tak hanya di lakukan di dunia maya. Warga Amerika yang memiliki tetangga Muslim dari ketujuh negara menampilkan foto diri yang menunjukkan dukungan itu. Di antaranya memajang foto dengan tulisan “tetangga saya adalah muslim Pakistan,  saya akan menjaga dan melindungi dia dengan jiwa dan raga” dilengkapi dengan tagar #resist dan #endhate sebagai dukungan.

Begitulah sepatutnya menjadi manusia yang toleran dan terbuka - menyediakan diri sepenuh hati dan jiwa raga manakala ada kelompok yang menghadapi diskriminasi, apalagi dizalimi. Penyeru kebencian, siapapun dia harus ditolak. Tak ada tempat bagi kebencian atas dasar suku, agama, ras, atau  golongan.

Pun di sini, sejumlah kelompok masyarakat mulai mengambil inisiatif menolak ujaran kebencian semacam itu. Kata orang diam itu emas. Tapi menghadapi hal semacam ini dengan diam adalah pembiaran dan pembenaran. Selemah-lemahnya yang bisa kita lakukan adalah membuat status penolakan dan penghentian kebencian. Seperti yang dilakukan warga Amerika bahkan kepada Presidennya, Donald Trump.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Paripurna DPR Tetapkan Tujuh Anggota Komnas HAM

  • Polisi Masih Dalami Politikus Penyandang Dana Saracen
  • DKI Ubah Trayek Angkutan Umum demi Program OK-OTRIP
  • Tidak Ada Logo Palu Arit di Spanduk Yang Digunakan Warga Demo Tolak Tambang Emas