Ali Kasdono sedang menyelesaikan miniatur kapal dari bambu di Pekalongan Jawa Tengah, Kamis (19/1/2017). Kerajinan miniatur kapal dari bambu karya Ali Kasdono itu sudah diekspor hingga ke Tiongkok. (Foto: ANTARA)


KBR, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat posisi Amerika Serikat sebagai pasar utama ekspor Indonesia, kini tergeser oleh Tiongkok.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan perubahan tren itu karena konsumsi Tiongkok yang besar terhadap barang asal Indonesia, dibarengi dengan membaiknya harga komoditas tersebut. Meski begitu, pergeseran itu bukanlah dampak wacana proteksionis Presiden AS Donald Trump.

"Ini menggembirakan. Ada kenaikan harga komoditas, ada pertumbuhan ekonomi di beberapa negara tujuan utama, dan seterusnya. Kalau kita perhatikan, ada pergeseran sedikit di sini. Biasanya, ekspor nonmigas kita, posisi nomor satu ditempati Amerika, kemudian Tiongkok, dan Jepang. Tetapi di sana ada sedikit pergeseran. Karena posisi pertama adalah Tiongkok, diikuti Amerika Serikat, dan kemudian yang menggeser Jepang adalah India," kata Suhariyanto, Kamis (16/2/2017).

Baca juga:


Tren ekspor yang berubah itu dimulai sejak triwulan terakhir 2016, saat harga-harga komoditas membaik, baik ekspor migas maupun non migas. Kata Suhariyanto, apabila dibandingkan Desember 2016, capaian ekspor Januari 2017 memang menurun 3,21 persen, tetapi itu karena faktor musiman.

Pasar Tiongkok mengonsumsi produk nonmigas Indonesia terbesar, senilai USD 1,55 miliar atau 12,8 persen dari total ekspor nonmigas sepanjang Januari. Adapun AS yang kini di posisi kedua, mengonsumsi USD 1,43 miliar, sedangkan India yang menggeser Jepang, mengonsumsi USD 1,32 miliar.

Ekspor nonmigas pada Januari lalu total mencapai USD 12,11 miliar, atau tumbuh 29,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang USD 9,37 miliar.

Nilai ekspor nonmigas terbesar terjadi pada komoditas lemak dan minyak hewan/nabati senilai USD 2,19 miliar, diikuti bahan bakar mineral senilai USD 1,68 miliar.

Adapun jika dilihat secara sektoral, ekspor terbesar berasal dari industri pengolahan, yakni USD 9,87 miliar, atau naik 26,27 persen dari capaian periode yang sama tahun lalu.

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!