Banjir Bitung, Ribuan Orang Mengungsi

Banjir dan tanah longsor dipicu oleh hujan deras di beberapa wilayah sejak Sabtu kemarin.

Minggu, 12 Feb 2017 18:20 WIB

Banjir di Kota Bitung. Foto: Zulkifli/KBR

KBR, Manado- Sekitar 2.200 orang mengungsi akibat banjir bandang dan tanah longsor di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Bencana tersebut  juga mengakibatkan 2 orang luka-luka dan 1 orang hilang. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulut, Noldy Liow, banjir dan tanah longsor dipicu oleh hujan deras di beberapa wilayah sejak Sabtu kemarin.

 â€śMemang hari ini beberapa wilayah terjadi hujan deras termasuk Kota Bitung sedang dilanda banjir dan tanah longsor dan secara informasi ada 2200 jiwa yang terdampak yang sekarang sedang dilakukan reaksi cepat," ujar Noldi Liow kepada KBR, Minggu (12/2).

Ia menyebutkan empat kecamatan di Kota Bitung yang terkena dampak bencana yaitu Kecamatan Maesa,  Kecamatan Aertembaga, Kecamatan Lembeh Utara dan Kecamatan Lembeh Selatan. Untuk bencana banjir terjadi di Kelurahan Pateten Tiga, Winenet Satu, Winenet Dua, Aertembaga Satu, Tandurusa, Mawali dan Pintu Kota. Sedangkan tanah longsor di Kelurahan Tandurusa, Papusungan, Mawali dan Pintu Kota.

Liow menjelaskan, jumlah rumah yang tergenang banjir sekira 600 rumah, tanah longsor 30 rumah.

Lanjutnya, Saat ini tim terpadu dari BPBD Sulut dan Bitung, kemudian Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Pekerjaan Umum, Tagana, PMI, Polres Bitung, Kodim Bitung, Marinir, Pemerintah Kecamatan hingga lingkungan sedang melakukan upaya darurat. Di antaranya mengevakuasi warga terdampak, membersihkan got tersumbat, membuka akses jalan yang tertutup material yang longsor dan mendirikan dapur umum.

Sementara menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, kebutuhan mendesak yang diperlukan adalah radio komunikasi, permakanan, air minum dalam kemasan, peralatan kebersihan.

Editor: Sasmito

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.