Rutin memeriksakan kehamilan bisa mengurangi resiko pada ibu dan janin. (Foto: kesehatanibu.depkes.go.id)


KBR, Bondowoso – Angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, memperlihatkan tren meningkat setiap tahun.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso menunjukkan angka riil kasus kematian ibu dan bayi meningkat dari 2014, 2015 dan 2016.

Kepala Dinas Kesehatan Bondowoso Muhammad Imron mengatakan pada 2017, sejak Januari hingga awal Februari sudah terjadi empat kasus kematian ibu dan bayi Bondowoso.

"Angka kematian ibu dan bayi riil itu tahun 2014 sebanyak 17 kasus, 2015 ada 19 kasus, 2016 ada 20 kasus dan tahun ini sampai Senin sudah ada empat kasus," kata Muhammad Imron kepada KBR.

Sebagian besar kasus kematian terjadi akibat keracunan kehamilan (preeclampsia), pendarahan dan penyakit jantung.

Dari seluruh kasus ada beberapa kasus dimana ibu yang meninggal masih berusia dini. Namun mayoritas korban ibu meninggal telah matang usia reproduksinya.

Baca juga:


Dinas Kesehatan terus menggencarkan kampanye peran bidan–bidan desa ke masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan selama masa kehamilan. Pengamatan Dinas Kesehatan menunjukkan angka kematian ibu dan bayi di Bondowoso dipengaruhi kondisi ibu saat masa kehamilan, saat bersalin dan saat nifas.

"Makanya kita optimalkan peran bidan dan puskesmas. Setelah melahirkan selama 42 hari harus terus dipantau, bagaimana kondisi ibu dan bayi," imbuhnya.

Dinas Kesehatan Bondowoso juga mencatat sejak 2012 hingga 2013, angka kematian ibu juga terus mengalami kenaikan. Untuk 2012, Dinkes mencatat ada 12 kematian ibu melahirkan dan 2013 meningkat menjadi 22 kasus.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!