SMRC: Loyalitas Masyarakat Indonesia terhadap Partai Terendah di Dunia

"Di Indonesia kita temukan party ID itu lemah, atau rendah sekali. Termasuk yang terendah di dunia. Kalau dari data yang kita punya, Party ID di Indonesia ada di angka 11,7 persen pada Desember 2017."

Rabu, 03 Jan 2018 10:26 WIB

Ilustrasi bendera partai politik. (Foto: kesbangpol.kemendagri.go.id/Publik Domain)

KBR, Jakarta - Party identificiation (party ID) atau loyalitas masyarakat Indonesia terhadap partai politik yang didukung ternyata masih sangat rendah. 

Berdasarkan riset yang dilakukan lembaga Saiful Mujani Researceh and Consulting (SMRC), hanya 11 persen warga Indonesia yang memiliki kedekatan dengan partai yang diyakininya. SMRC menilai kondisi itu membuat jumlah pemilih partai setiap tahun mengalami fluktuasi. 

Direktur Utama SMRC Djayadi Hanan mengatakan Indonesia masuk dalam negara dengan tingkat party identification terendah dibanding negara lain.

"Di Indonesia kita temukan party ID itu lemah, atau rendah sekali. Termasuk yang terendah di dunia. Kalau dari data yang kita punya, kedekatan dengan partai atau Party ID di Indonesia ada di angka 11,7 persen pada Desember 2017. Dengan kata lain hanya 11,7 persen orang di Indonesia merasa punya ikatan psikologis dengan partai tertentu dan akan memilih partai itu kapan pun pemilu digelar," kata Djayadi di kantor SMRC, Jakarta, Selasa (2/1/2018).

Baca juga:

Djayadi mengatakan tahun ini secara umum party ID masyarakat Indonesia meningkat tipis, namun dapat dianggap tidak mengalami kemajuan signifikan. Ia mengatakan jika dihitung perbandingan secara langsung maka hanya satu dari 10 pemilih di Indonesia memiliki ikatan psikologi dengan partai yang dipilih sedangkan sembilan di antaranya tidak.

"Party ID Indonesia masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Belgia, Australia, Israel, Selandia Baru, Amerika Serikat, Inggris, Jepang dan Korea Selatan. Sehingga ada beberapa partai yang memang aman dari swing votter seperti PDIP, tapi ada juga yang berada di bawah posisi aman seperti PAN," kata Djayadi.

Selain itu, Djayadi mengatakan tidak konsistennya masyarakat Indonesia terhadap partai pilihan dipengaruhi siapa pemimpin partainya dan juga banyaknya partai baru di setiap penyelenggaraan pemilu.

Djayadi mengatakan sejak era Reformasi 1998 tercatat sudah ada 10 partai yang kokoh masuk dalam bursa senayan, sehingga pada pemilu selanjutnya tidak menutup kemungkinan jumlah partai itu akan bertambah.

Ia menambahkan berdasarkan survei SMRC saat ini partai yang masih stabil dengan tingkat kepercayaan masyarakat tinggi adalah PDIP. Menurut survei SMRC, pendukung loyal atau party ID yang dimiliki PDIP cukup besar dibanding yang lain.

"Menurut survey memang PDIP semakin menguat. Antara lain karena warga mengidentifikasi PDIP sebagai pendukung Jokowi. Ada sekitar 20 persen warga yang menyatakan akan memilih PDIP dengan alasan partai pendukung Jokowi," kata Djayadi.

Surve SMRC itu digelar pada 7-13 Desember 2017, menggunakan 1.220 responden dengan 87 persen valid responden dan 3,1 persen margin of error.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".