Sisir Daerah Rawan Gizi Buruk, TNI Klaim Tembus Ratusan Kampung di Asmat

Dari 224 kampung di Kabupaten Asmat, baru 198 kampung yang saat ini bisa dijangkau Satgas Kesehatan Gabungan TNI-Polri.

Rabu, 31 Jan 2018 16:47 WIB

Seorang ibu mendampingi anaknya Yacobus saat dirawat di Aula Gereja Protestan Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Senin (22/1/2018). (Foto: ANTARA/M Agung Rajasa)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Upaya penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua terkendala beratnya medan dan kondisi cuaca. 

Kepala Pusat Penerangan Komando Daerah Militer (Kodam) XVII/Cenderawasih Muhammad Aidi mengatakan dari 224 kampung di Kabupaten Asmat, baru 198 kampung yang saat ini bisa dijangkau Satgas Kesehatan Gabungan TNI-Polri.

"Dari kampung-kampung itu ada yang bisa dijangkau dengan speedboat 5-7 jam. Kita harus berhitung juga masalah pasang surut air sungai. Kalau tidak menghitung, misal berapa jam pasangnya, kita bisa terdampar di lumpur," kata Aidi saat dihubungi KBR, Rabu (31/1/2018).

Letak kampung yang terpencar-pencar juga cukup menyulitkan. Anggota Satgas mesti menyisir daerah-daerah itu untuk menemukan lokasi perkampungan.

Dari data yang dihimpun oleh Satgas Kesehatan Gabungan TNI-Polri, sejak September hingga Selasa (30/1/2018) terdapat 647 anak terkena campak, 220 mengalami gizi buruk, dan 11 orang lagi mengalami komplikasi. 

Selain itu, masih ada 25 orang yang dinyatakan suspek campak. Hingga Rabu (31/1/2018), 28 pasien masih dirawat di RSUD Agats dan aula gereja. Sementara 57 orang lainnya menjalani rawat jalan.

Kapuspen Kodam Cenderawasih Muhammad Aidi mengatakan TNI menurunkan 260 personil yang terdiri dari bintara pembina desa (babinsa) untuk membantu distribusi bantuan, dokter, dan petugas kesehatan lainnya. 

Sampai Rabu (31/1/2018), vaksin juga sudah diberikan kepada 13.337 anak. Dia memastikan jumlah petugas kesehatan yang diturunkan sudah mencukupi kebutuhan di lapangan.

"Kalau tenaga sudah cukup. Yang menjadi masalah itu fasilitas, terutama transportasi. Speedboat dan alat transportasi dari Timika ke Asmat. Karena tidak ada pesawat komersial, jadi harus mencarter. Kapal laut pun terjadwal sesuai pasang surut air," kata Aidi.


Dokter TNI AL Lantamal XI Merauke memeriksa kesehatan warga di Distrik Jetsy, Kabupaten Asmat, Selasa (23/1/2018). (Foto: ANTARA/M Agung Rajasa)

Baca juga:

Jumlah korban tewas

Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 71 orang meninggal akibat gizi buruk dan campak yang terjadi di Kabupaten Asmat, Papua. 

Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek mengatakan, angka tersebut merupakan data terakhir yang disampaikan tim dari Kemenkes.

Nila mengklaim Kemenkes telah melakukan imunisasi atau Outbreak Response Immunization (ORI) terhadap 13.300 orang di Asmat. Namun, kata Nila, ada beberapa distrik yang belum bisa diakses untuk imunisasi.

"Masih ada 30 pasien yang berada di rumah sakit. Sebagian ada di gereja karena tempatnya tidak cukup, ada 50. Terakhir yang berada di gereja ini sudah kembali. Sesuai laporan Pusat Krisis kami, yang tertinggal beberapa orang," kata Nila di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Rabu (31/1/2018).

Nila mengatakan, Kemenkes telah mengerahkan tenaga kesehatan spesialis dalam penanganan KLB gizi buruk dan penyakit campak di Asmat. Namun dokter spesialis tersebu hanya tersedia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats.

Tenaga kesehatan di Pusat Krisis Kesehatan juga sudah banyak yang kembali. Nila mengatakan, tenaga kesehatan yang tersedia kini hanya beberapa orang saja. Namun Menteri Nila Moeloek berjanji akan melakukan penguatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di distrik-distrik.

"Penguatan program Nusantara sehat akan kami lakukan. Kami menyebutnya tugas khusus secara individu. Tetapi kami tetap memerlukan dokter umum. Ini yang akan kami rekrut kembali dan mengirimnya," ujarnya.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.