Ratusan Ribu Keluarga di Bondowoso Masih BAB Sembarangan

Dari 209 desa di Kabupaten Bondowoso, baru 19 desa yang sudah dinyatakan Open Defecation Free (ODF). ODF adalah kondisi ketika setiap individu dalam sebuah komunitas tidak lagi BAB sembarangan.

Selasa, 16 Jan 2018 15:58 WIB

Poster kampanye sanitasi tidak BAB sembarangan di Bondowoso, Jawa Timur. (Foto: KBR/Friska Kalia)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Bondowoso – Sebanyak 118.225 keluarga di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur masih melakukan buang air besar (BAB) sembarangan. Jumlah penduduk Kabupaten Bondowoso total mencapai 757 ribu orang.

Angka itu menempatkan Bondowoso berada di posisi 37 dari 38 kabupaten kota di Jawa Timur dengan akses sanitasi terendah.

Juru bicara Dinas Kesehatan Bondowoso, Sugiyanto mengatakan pemerintah daerah menargetkan dalam dua tahun ke depan bisa menjalankan program jambanisasi bagi sekiar 30 ribu keluarga.

"Sampai hari ini memang masih banyak yang BAB sembarangan. Di tahun ini kami targetkan ada 12.191 keluarga yang jadi prioritas jambanisasi, disusul nanti 16.972 keluarga pada tahun depan," kata Sugiyanto kepada KBR, di Bondowoso, Selasa (16/1/2018). 

Baca juga:

Target

Sugiyanto mengatakan dari 209 desa di Kabupaten Bondowoso, baru ada 19 desa yang sudah dinyatakan Open Defecation Free (ODF). ODF adalah kondisi ketika setiap individu dalam sebuah komunitas tidak lagi buang air besar sembarangan. Beberapa desa yang sudah bebas BAB sembarangan antar lain enam desa di Kecamatan Ijen, Desa Kabuaran, Karang Melok dan Tegalampel.

Jika mengacu pada target yang ditetapkan Presiden, kata Sugiyanto, pada 2019 mendatang seharusnya tak ada lagi masyarakat yang buang air besar sembarangan. Karena itu, Sugiyanto berharap ada peran serta aktif dari masyarakat untuk sadar pentingnya kebersihan dan sanitasi dalam keluarga. Termasuk pembuatan jamban di keluarga.

"Kalau masyarakat sadar pentingnya kebersihan, tentu pembuatan jamban tak perlu menunggu program pemerintah. Kami akui, kesadaran masyarakat akan kebersihan sanitasi masih rendah. Faktornya tak selalu soal kemiskinan, tapi juga karena kebiasaan," kata Sugiyanto.

Beberapa waktu lalu, Dinas Kesehatan Bondowoso meluncurkan program GESIT (Gerakan Sanitasi Total) yang mengarah pada penghilangan kebiasaan BAB Sembarangan. Dalam program ini diatur sejumlah strategi untuk percepatan mencapai ODF. Sayangnya, penuntasan program jambanisasi ini tak memiliki anggaran khusus.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan, pada tahun 2018 ini alokasi anggaran untuk stimulan pengadaan jamban hanya dipatok Rp600 juta untuk 1.200 titik yang tersebar di seluruh kecamatan. 

Padahal, jika melihat standar Dinas Kesehatan, sebuah jamban setidaknya membutuhkan biaya Rp1 juta rupiah. Artinya dibutuhkan setidaknya Rp1,2 milyar untuk 1.200 titik yang telah ditetapkan.

"Kami tidak ada anggaran khusus memang. Mayoritas program melibatkan CSR dari perbankan. Jadi programnya lebih ke pembinaan masyarakat agar memiliki kesadaran pentingnya punya jamban pribadi," imbuhnya.

Pada 2014 lalu, Indonesia berada di urutan ke dua di dunia dengan sanitasi terburuk berdasarkan data organisasi dunia, PBB. PBB mencatat sebanyak 63 juta penduduk Indonesia tidak memiliki toilet dan  masih buang air besar (BAB) sembarangan di sungai, laut, atau di permukaan tanah. 

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.