Pertemuan Bilateral, Amerika Tawarkan Alutsista

Kedua Menteri Pertahanan juga membahas terorisme dan ISIS

Selasa, 23 Jan 2018 14:59 WIB

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (kedua kanan) bersalaman dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat James Mattis (ketiga kanan) usai pertemuan bilateral di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa (23/1). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Amerika tawarkan persenjataan kepada Indonesia. Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu mengatakan, saat kunjungan ke Indonesia  Menteri Pertahanan Amerika Serikat James N. Mattis  menawarkan pemberlian alat utama sistem pertahanan (alutsista).

Kata  Ryamizard, saat ini Indonesia belum  membutuhkan alutsista. Kata dia,  kemungkinan baru Alutsista dibutuhkan pada 3 atau 4 tahun ke depan.

"Iya dia (AS) akan menjual Alutsistanya kepada kita. Tergantung kita berapa banyaknya. (Berapa akan dibeli?) Saya rasa sementara cukup dulu, tidak  tahu tiga-empat tahun lagi. Kenapa? Kita kan tidak perang. Perang kita sama teroris, teroris kan tidak pake gitu-gituan (alutsista)," jelas Ryamizard kepada wartawan usai pertemuan bilateral bersama Menhan Amerika Serikat, Selasa (23/01).

Ryamizard mengatakan kondisi Alutsista yang sudah tua di antaranya pesawat.

"Kemungkinan ke depan pasti, adalah karena makin tahun ada yang harus diganti kan tua-tua kalau pesawat terbang. Kalau mobil 100 tahun masih bisa, kalau pesawat (usia) 50 tahun ngeri-ngeri juga," ucapnya.

ISIS

Dalam pertemuan bilateral itu kedua menteri pertahanan juga membahas   persoalan terorisme terutama ISIS  di kawasan Asia tenggara. Kata Ryamizard   mata-mata perlu diperbanyak untuk mengawasi gerak-gerik mereka. 

"Nah harus diselesaikan karena kalau tidak dibesarkan jadi bertambah kuat. Untuk menyelesaikan ini kita perlu banyak mata-mata. Indonesia membentuk intelijen dengan nama 'our eyes'. Supaya kita tahu pasti apa mau kemana dia (teroris)," jelas Ryamizard.

Kata dia, Amerika berjanji membantu peralatan.

"Tadi Jenderal Mattis menyatakan akan bantu. Karena bagaimana pun alat peralatan Amerika jauh lebih canggih dari kita. Kita perlu bantuan, hal ini akan dibantu," imbuhnya. 

Selain itu Menhan RI Ryamizard Ryacudu bersama Menhan AS James N. Mattis juga membahas etnis Rohingya. Kedua menteri kuatir pengungsi Rohingya ditampung ISIS.


"Kemudian masalah Rohingya, bantuan kemanusiaan sudah, Amerika sudah, negara lain juga sudah banyak. Tapi saya memandangnya dari sisi lain. Ini harus ditangani dengan benar, kalau tidak benar, di Myanmar tidak diterima, di Bangladesh tidak diterima, di negara lain tidak diterima, ya pasti dia (Rohingya) akan berpikir ya di mana. Yang menerima pasti teroris, nah ini bahaya," kata Ryamizard.

DIa melanjutkan, "nanti kalau dari teroris ISIS itu narik 'eh ini aja' diajak bergabung, kan susah. Maka menanganinya harus bijak. Orang lagi bingung, pasti mau."

Dalam kesempatan yang sama, James N. Mattis mengapresiasi cara Indonesia menangani kasus terorisme.

"Kami akan memperluas dan merespon permintaan apapun dari Indonesia untuk counter terorisme dan melakukannya untuk melindungi keamanan masyarakat sipil. Indonesia telah melakukan pekerjaan yang luar biasa selama 10 tahun terakhir dan kita bisa belajar dari itu dan bekerja sama."

Sebelumnya  Indonesia dan Amerika menandatangani  Persetujuan Kerjasama Pertahanan. Kesepakatan itu  ditandatangani saat kunjungan Presiden Joko Widodo ke  
Washington DC pada 26 Oktober 2016.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.