KLB Difteri, Menkes: Mulai Turun

"Pada 2018 tak ada penambahan kabupaten/kota yang melaporkan adanya KLB difteri,"

Jumat, 12 Jan 2018 21:08 WIB

Ilustrasi: Imunisasi difteri. (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta- Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah kasus difteri di Indonesia sepanjang 2017 mencapai 954 kasus, dengan kematian sebanyak 44 kasus atau 4,61 persen. Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan, angka kematian akibat difteri itu lebih kecil dibanding kematian rata-rata di dunia akibat difteri sebesar 5 sampai 10 persen.

"Jadi angka itu setiap hari diberikan kepada saya, dan kelihatan ORI (outbreak response immunization) kita gempur terus. Terutama memang kalau dari Pusat menekankan di Jakarta, Jawa Barat dan Banten karena angkanya cukup banyak, Jawa Timur juga cukup banyak. Sekarang sudah mulai turun ada di 85 kabupaten/kota dan tidak ditemukan kasus baru," kata Nila di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jumat (12/01/18).

Nila mengatakan, kasus difteri tersebut terjadi di 170 kabupaten/kota yang tersebar di 30 provinsi selama 2017. Data terakhir terdapat 85 kabupaten/kota yang sudah tidak ditemukan kasus baru.

"Pada 2018 tak ada penambahan kabupaten/kota yang melaporkan adanya KLB difteri," kata Dia.

Nila menambahkan, pada 01 Januari sampai 09 Januari 2018 Kemenkes mencatat terdapat 14 kasus difteri dan tidak ada kasus meninggal. Belasan kasus itu dilaporkan dari 11 kabupaten/kota di empat provinsi yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat dan Lampung.

Kemenkes mengklaim telah melaksakan Outbreak Response Immunization (ORI) di 170 kabupaten/kota yang tersebar di 30 provinsi. Nila mengatakan, imunisasi itu dilakukan secara bertahap yakni 85 daerah sebelum Desember 2017, 12 daerah di Desember 2017 dan 73 daerah pada awal tahun 2018.

"Diharapkan cakupan akan mencapai 90 persen pada akhir Januari 2018," ujarnya.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Selama ini kita sering mendengar berita mengenai orang yang meninggal akibat penyakit diabetes, sehingga menjadikan diabetes sebagai salah satu penyakit yang ditakuti.